Sore hari selepas HUT TNI AU ke-65, sebuah stasiun televisi swasta, masih dalam
rangka HUT TNI AU, menyiarkan secara langsung dari Lanud Halim Perdanakusuma,
ketangguhan Detasemen Bravo 90, pasukan khusus di linkungan TNI AU, dalam menanggulangi teror pembajakan pesawat.
Dalam tayangan itu terlihat dari tampilan yang ada, Den Bravo begitu gagahnya dengan
senjata lengkap mampu membebaskan para sandera dari ancaman pembajakan. Latihan tersebut tentu menjadi modal bagi Den Bravo apabila peristiwa sebenarnya terjadi.
Den Bravo merupakan salah satu detasemen khusus antiteror, selain Densus 88 Polri,
Detasemen 81 Kopasus TNI AD, Detasemen Jala Mangkara Korps Marinir TNI AL, dan dan satuan anti-teror BIN. Sesuai dengan keahlian masing-masing mereka sering melakukan latihan pembebasan sandera atau operasi rahasia dengan model pelatihan diantaranya pembebasan pembajakan di berbagai tempat seperti kapal terbang, kereta api, kapal laut, dan fasilitas umum.
Ketangguhan detasemen khusus TNI, ketangguhannya sudah teruji ketika Kopassandha
(Kopassus) mampu membebaskan pembajakan pesawat Garuda Indonesia DC-9 yang dilakukan oleh lima teroris yang dipimpin Imran Bin Muhammad Zein, pada 28 Maret 1981, di Bangkok, Thailand. Operasi Grup-1 Para-Komando di bawah pimpinan Letnan Kolonel Infanteri Sintong Panjaitan itu mampu membebaskan pesawat itu setelah disandera selama empat lewat serbuan kilat.
Dari kesuksesan dalam pembebasan Operasi Woyla itu menempatkan Kopassus setara
dengan pasukan elit lainnya seperti Delta Force (Amerika Serikat), SAS (Inggris), dan Spetsnaz (Rusia). Tentu tugas detasemen-detasemen khusus Indonesia tidak selesai atau tidak melakukan apa-apa ketika tidak ada peristiwa pembajakan atau peristiwa sejenis. Saat ini dan ke depan pasti ada kejadian serupa yang membuat keahlian detasemen khusus harus terus teruji dan mampu menanggulangi. Kesuksesan Kopassus tidak berhenti di situ, dalam operasi pembebasan sandera Mapenduma, tahun 1996, pasukan khusus yang saat itu dipimpin Prabowo Subianto juga mampu membebaskan tim Ekspedisi Lorentz dari OPM.
Dalam penyanderaan kapal Sinar Kudus, sebenarnya menjadi peluang untuk membuktikan ketangguhan-ketangguhan detasemen khusus di Indonesia yang selama ini giat melakukan latihan. Namun sayangnya, disebut ketika operasi digelar, Kapal Sinar Kudus sudah tidak berada di tengah laut namun sudah ditarik ke sarang perompak, sehingga ada kekhawatiran timbul korban ketika operasi militer tetap digelar. Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengatakan perompak telah melabuhkan kapal MV Sinar Kudus ke pantai yang dikuasai gerombolan perompak. Sehingga posisi yang demikian menurut Agus Suhartono lebih sulit daripada di tengah laut.
Namun mantan KSAL Laksamana (Purn) Bernard Ken Sondakh mengatakan penangkapan perompak di lautan sangat sulit dilakukan. Untuk itu yang diperlukan mengamati gerak-gerik perompak tersebut sampai mengetahui di mana sarangnya. Jadi tidak kejar di laut, tapi sergap di darat.
Kalau sulit apakah kita tidak melakukan? Tentu harus tetap dilakukan. Bila banyak AL
negara lain bisa, kenapa kita tidak? Dari sekian AL yang paling sukses membebaskan sandera adalah AL Korea Selatan. Dalam pembebasan sandera di kapal milik perusahaan swasta Korea Selatan itu, AL Korea Selatan menyerbu kapal itu. Aksi pasukan komando itu menyelamatkan semua kru kapal, termasuk dua awak asal Indonesia, dan menewaskan delapan bajak laut.
Alasan Agus Suhartono yang mengatakan AL Malaysia dan AL Korea berhasil melakukan pembebasan sandera karena kapalnya masih di tengah laut, itu hanya sebuah alasan
semata atas keterlambatan operasi militer. Keterlambatan ini bisa jadi karena pemerintah bisa dikatakan lamban, sehingga operasi menjadi terlambat, dan lebih memilih menempuh opsi membayar tebusan dengan alasan untuk menghindari jatuhnya korban jiwa. Menebus dengan uang dirasa lebih aman daripada melakukan operasi militer yang penuh dengan resiko.
Dan cara itu berhasil, buktinya disebut perompak sudah membebaskan awak Kapal Sinar Kudus. Cara seperti itu syah-syah saja, bisa dikatakan itu merupakan bagian dari diplomasi, namun cara seperti itu semakin menyuburkan perompakan di wilayah perairan Teluk Aden, Laut India, dan Perairan Somalia. Langkah seperti ini pernah dilakukan oleh pemilik kapal berbendera Jerman, Arab Saudi, Singapura, dan Yunani. Mereka membayar tebusan karena negara kaya, lha kita bagaimana? Dengan cara seperti itu, maka target dan tujuan dari perompak Somalia tercapai, yakni memperoleh uang dari hasil kegiatannya itu.
Sebenarnya kita yakin Detasemen 81 Kopasus TNI AD, Detasemen Jala Mangkara Korps
Marinir TNI AL, dan Detasemen Bravo TNI AU, mampu melakukan hal itu. Para komando
mereka pun menyatakan siap jika menggelar operasi militer. Bukankah detasemen-detasemen itu sering melakukan pelatihan pembebasan pembajakan di berbagai tempat seperti kapal terbang, kereta api, kapal laut, dan fasilitas umum.
Bila kita tidak memberi kesempatan detasemen-detasemen khusus yang ada untuk
menggelar operasi militer, disebabkan karena kelambanan dalam bersikap, akan membuat
anggaran TNI menjadi membengkak. Mengapa membengkak? Karena detasemen-detasemen
khusus Indonesia itu akan belajar atau studi banding kepada AL Korea Selatan atau AL Malaysia untuk menimba ilmu pembebasan sandera di atas kapal. Belajar ke Korea Selatan kita masih bisa maklum, yang tidak maklum atau memalukan adalah belajar kepada AL Malaysia.
Di sinilah maka pemerintah harus memberi kesempatan kepada detasemen khusus untuk berperan, dengan segera bertindak ketika ada pembajakan. Kopassus tidak akan mampu
membuktikan keelitannya bila Presiden Soeharto dan Panglima ABRI, saat itu, tidak memberi kepercayaan kepadanya. Karena Soeharto dan Panglima ABRI memberi kepercayaan kepada Kopassus, maka pasukan elit itu terbukti tangguh di lapangan, tidak hanya tangguh saat pertunjukan atau tangguh ketika hanya melawan teroris kelas kampung.
Bila detasemen khusus berhasil dalam operasi pembebasan sandera kapal Sinar Kudus,
sebenarnya hal itu akan menjadi nilai tambah efek penggetar kekuatan militer Indonesia kepada negara-negara tetangga. Keberhasilan AL Malaysia dalam pembebasan sandera mungkin dalam hati kita membuat sedikit ciut bila menghadapi Tentara Diraja Malaysia. Keberhasilan AL Malaysia itu bisa jadi akan digunakan oleh Negeri Jiran untuk semakin melecehkan Indonesia.
*) Ardi Winangun pernah Bekerja di Civil-Militery Relation Studies (Vilters) dan Peminat Studi Pertahanan. Penulis tinggal di Matraman, Jakarta Timur. No kontak: 08159052503. E-mail: ardi_winangun@yahoo.com
Sumber: detiknews.com
Showing posts with label Militer. Show all posts
Showing posts with label Militer. Show all posts
Tuesday, May 3, 2011
Wednesday, April 20, 2011
Robot Perang Indonesia yang Dikagumi Inggris
SIAPA sangka dari Swindon, sebuah kota kecil yang berjarak sekitar dua jam berkendara dari London, seorang anak bangsa, Dr Subchan, kini menjadi pembicaran di Inggris. Peneliti di Cranfield University, Shrivenham Campus di Oxfordshire, Inggris, bersama timnya dinyatakan sebagai pemenang Minister of Defense (MoD) Grand Challenge, Bahkan, Departemen Pertahanan Inggris berminat mengembangkan robot dan piranti ciptaan timnya.
MoD Grand Challenge adalah lomba bergengsi untuk mencari teknologi terapan di dunia militer yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan Inggris.
Subchan, pria yang lahir dan besar di Jombang, Jawa Timur, itu bersama Team Stellar mengembangkan Saturn (Sensing and Autonomous Tactical Urban Reconnaissance Network).
Saturn adalah semacam robot yang berfungsi mendeteksi ancaman musuh. Bukan sembarang robot. Ini adalah robot terpadu yang memiliki tiga komponen, baik di darat maupun udara, yang bisa mengidentifikasi kekuatan dan posisi musuh di medan pertempuran.
”Robot ini bisa menggantikan manusia untuk mengintai kekuatan dan posisi musuh, tanpa berisiko terlihat atau diketahui lawan,” jelas Subchan yang lulusan Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) jurusan matematika 1994 itu.
Sumber: riiobudiutomo.wordpress.com
Monday, March 14, 2011
Mengejar Pesawat PIA dengan Sukhoi
Pesawat PIA yang disergap oleh Sukhoi
Dalam bukunya yang berjudul Pertahanan Indonesia, angkatan perang negara kepulauan, Marsekal TNI (purn) Chappy Hakim menguraikan ada dua perang udara yang bisa dijadikan dan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi sistem pertahanan negara untuk mempertahankan wilayah atau pangkalan udaranya, yaitu Battle of Britain dan Pearl Harbor.
Kedua pelajaran itu adalah, pertama, pentingnya fungsi radar. Dengan radar, Inggris dapat memantau pesawat-pesawat Jerman yang ancang-ancang siap menyerbu. Selain itu, dengan radar, AU Inggris, Royal Force, dapat memantau di mana posisi pesawat AU Jerman. Dengan radar tersebut, Inggris sukses membendung serangan udara besar-besaran Jerman. Kedua, seluruh kekuatan peperangan, harus siap siaga selama 24 jam. Hancurnya pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbor terjadi akibat lengahnya sistem pertahanan militer. Amerika Serikat sebenarnya memiliki armada laut dan udara yang cukup banyak, namun lengah dan menganggap sepele ancaman serangan Jepang, akibatnya serangan dadakan itu membuat Amerika Serikat malu. Dari peristiwa itu membuat doktrin bagi sistem pertahanan Blok Barat dan Blok Timur, saat terjadi Perang Dingin, bahwa mereka harus selalu siaga satu atau maintain 24 hours in alert.
Pelajaran tersebut juga menjadi acuan bagi TNI AU, buktinya di masa damai, TNI AU berhasil mencegah dan memaksa beberapa penerbangan ilegal. Ketika Pakistan Internasional Airlines (PIA), jenis Boeing 737 seri 300, melintas wilayah udara Indonesia tanpa izin, dan gerak pesawat terdeteksi oleh radar Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional II di Bandara Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, serta merta dua Sukhoi yang ada di Skuadron Udara 5 Lanud Sultan Hasanuddin langsung terbang dan memberikan peringatan pesawat asing itu mendarat darurat. Disebutkan dua pesawat milik TNI AU itu mengejar pesawat dan berhasil memaksa pesawat PIA mendarat di Lanud Hasanuddin.
Langkah yang dilakukan oleh TNIAU dalam menjaga wilayah udara Indonesia itu patut diapresiasi. Di tengah minimnya anggaran TNI, TNI AU masih setia dan siaga mengawal wilayah udara. Penerbangan ilegal lain yang juga pernah digagalkan oleh TNI adalah ketika pesawat jenis BAE 146-200 yang membawa rombongan keluarga Kerajaan Melaka dari Dili menuju Kuala Lumpur, Malaysia, mendarat darurat untuk isi bahan bakar. Menjadi masalah karena pesawat tersebut hanya mengantongi izin melintas bukan izin mendarat. Karena pendaratan ilegal di Bandara Internasional Djuanda Surabaya itu maka TNI sempat menahannya, sama seperti PIA yang ditahan beberapa jam.
Menjadi pertanyaan, jika TNI AU sukses menahan pesawat-pesawat sipil yang terbang atau mendarat secara ilegal di wilayah udara Indonesia, lalu bagaimana ketika yang melakukan itu pesawat tempur, apalagi pesawat tempur itu dari negara yang mempunyai pengalaman perang yang hebat dan handal? Sepertinya kita, pemerintah Indonesia dan TNI tidak bisa berbuat banyak. Perdebatannya bukan pada pelanggaran penerbangan namun pada masalah hukum internasional mengenai alur bebas bagi pelayaran internasional.
Hal itu pernah terjadi ketika 5 pesawat F-18 Hornet milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) terbang dan bermanuver di perairan Bawean, Juli 2003. Tindakan yang disebut sebagai provokasi itu sebenarnya terdeteksi oleh radar sipil maupun TNI. Sebagai pengaman wilayah udara Indonesia, maka TNI AU pun mengirim 3 pesawat F-16 untuk memantau pesawat itu. Akibatnya bersiteganglah 3 pesawat F-16 dan F-18 itu. Bahkan dua Air Born dari kapal induk US Navy siap membantu 5 F-18 bila dogfight terjadi.
Karena merasa inferior, kalah jumlah, tidak mempunyai pengalaman dogfight, dan alutsista yang dimiliki Indonesia jauh tertinggal meski saat itu F-16 dilengkapi dengan misil, akhirnya kita tidak bisa berbuat banyak kepada pelanggaran penerbangan itu. Dan TNI AU pun tidak dapat memaksa pesawat-pesawar US Navy itu mendarat.
Dalam bukunya, Chappy Hakim mengupas panjang lebar mengenai pentingnya pertahanan Indonesia yang bertumpu pada matra laut dan udara. Namun karena kebijakan saat Orde Baru yang lebih bertumpu pada darat, serta banyak faktor lainnya maka pertahanan Indonesia jauh dari ideal dan wajar sehingga rentan terhadap penyusupan atau penerbangan ilegal.
Dalam sejarah pertempuran di Indonesia, selama ini mungkin belum menempatkan TNIAU pada posisi yang bagus. Kalau kita lihat AL dan AD sudah memberi catatan-catatan sejarah pertempuran membela NKRI. Dalam Pertempuran Laut Aru, misalnya terlihat betapa gagah beraninya TNIAL dalam bertempur melawan dua kapal destroyer dan pesawat Neptune dan Frely milik Belanda menyerang KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang, dan KRI Harimau. Dalam pertempuran itu akhirnya KRI Macan Tutul yang di pimpin Komodor Yos Sudarso tenggelam.
Dalam pertempuran itu, ada beberapa pihak yang menyalahkan AURI (TNI AU) karena tidak terlibat dalam pertempuran. Akibatnya dari peristiwa itu maka membuat KSAU Suryadarma mengundurkan diri. Pertempuran itu sebenarnya momen bagi fighter pilots TNI AU menjadi war pilots. Akibat minimnya pertempuran udara yang diikuti oleh TNI AU, maka di jajaran TNI AU hanya Komodor Udara Ignatius Dewanto yang hanya pernah melakukan dogfight (War Pilots, Dari Perang Dunia I Hingga Perang Teluk, Angkasa Edisi Koleksi). Minimnya pengalaman pertempuran udara yang dimiliki membuat TNI AU tidak memiliki ace, sebutan pilot yang jago tempur, jago udara, jago tembak, dan jago terbang. Justru Vietnam yang memiliki banyak ace, seperti Mai Van Cuong dan Nguyen Van Bay. Selain Amerika Serikat yang memiliki banyak ace, Jerman, Rusia, Inggris, Jepang, dan negara-negara yang memiliki angkatan udara yang tangguh juga banyak memiliki ace.
Bila di masa Orde Lama kekuatan TNI AU bisa dikatakan handal dengan jumlah pesawat mencapai 443 pesawat (pada tahun 1966) maka selepas pasca pemberontakan G 30 S, kekuatan TNI AU semakin melemah, tercatat pada tahun 2010 hanya 256 pesawat yang dimiliki. Kondisi yang demikianlah yang mungkin menyebabkan TNI AU tidak bisa memaksa mendarat penerbangan ilegal pesawat tempur US Navy.
Ardi Winangun
adalah peminat studi pertahanan, pernah bekerja di Civil-Militery Relations Studies (Vilters). Penulis tinggal di Matraman, Jakarta Timur. Kontak: 08159052503, ardi_winangun@yahoo.com
Sumber: us.detiknews.com
Wednesday, February 9, 2011
X-47B, Jet Tempur Canggih Terbang tanpa Pilot
Jet tempur canggih X-47B buatan Northrop Grumman yang belum diberi nama ini terbang tanpa pilot (dikendalikan dari markas) untuk pertama kalinya Jumat (04/02/2011) dari Edwards Air Force Base (AFB)—pangkalan angkatan udara Amerika Serikat (AS).
Sebagai orang yang selalu tertarik dengan dunia teknologi (meskipun bukan insinyur), saya memiliki beberapa situs wajib kunjung, rutin setiap hari—saya tak mau ketinggalan berita. Selain NASA, Discovery Channel, pengembang satelit dan situs beberapa astronom, saya juga wajib mengunjungi situs produsen-produsen pesawat—termasuk produsen pesawat tempur, Northrop Grumman (NG).
Tadi malam saya menemukan press release dari NG yang mengabarkan tentang uji coba terbang X-47B yang dikembangkan sejak Agustus 2007. Uji terbang perdana ini dilakukan di Edwards Air Force Base (AFB)—pangkalan angkatan udara Edward, California, Amerika Serikat.
X-47B melesat ke udara pukul 14:09 waktu setempat. Berhasil melakukan take-off tanpa hambatan, menuju titik koordinat yang telah ditentukan dan kembali mendarat di pangkalan dengan mulus, setelah melakukan berbagai maneuver selama 29 menit.
Pesawat jet tempur canggih ini adalah pesanan dari Navy Seal—pasukan elit angkatan laut Amerika Serikat.
“Uji coba terbang perdana ini diamksudkan untuk menguji kelayakan terbang, kemampuan dan kehandalan perangkat lunak (software) yang mampu mengoperasikan pesawat ini secara otomatis [tanpa pilot]—sekaligus melihat kemampuannya untuk take-off dan landing di atas dek kapal laut” kata Capt. Jaime Engdahl (UCAS-D program manager, angkatan laut AS), seperti dikutip oleh NG.
Engdahl juga mengatakan bahwa jet tempur ini mampu beroperasi bersama-sama dengan kapal laut atau kapal udara pengangkut. Disamping menghasilkan data uji, percobaan terbang perdana ini juga untuk melihat aspek aerodinamis dari desain jet tempur X-47B ini.
Dalam press releasenya NG mengatakan bahwa X-47B akan tetap berada di pangkalan udara AS untuk ekspansi “flight envelope”—kemampuan manuver, sebelum dipindahkan ke Naval Air Station akhir tahun 2011 ini.
Secara teknis, X-47B ini disebut “Unmanned Combat Air Vehicle (UCAV)”, tetapi sesungguhnya pesawat ini adalah evolusi dari jet tempur NightHawk F-117 dan Raptor F-22, dan F-35 (terbaru sebelum X-47B) yang membuat perang Iraq kelihatan lebih mirip seperti game komputer saat melihatnya di situs departemen pertahanan Amerika serikat. Perpaduan antara teknologi siluman (stealth) dan kecanggihan misil yang membuat bomber B-2 Sprit kelihatan begitu angker skaligus mengerikan di medan tempur.
Meminjam dari era riset “sayap terbang (flying wing)”, bisa dibilang X-47B adalah sebuah jet tempur yang memadukan desain indah dengan kecanggihan mesin dan teknologi elektronik, tidak tertangkap oleh radar, dan sulit dikunci oleh misil berteknologi infra merah.
Pesawat ini memiliki kemampuan take-off secara otomatis, terbang menuju lokasi target penyerangan dengan sendirinya, mengenali medan yang berada dibawahnya dengan teknologi peretasan melalui berbagai macam alat sensor, lalu—jika diperintahkan (dari jarak jauh)—menjatuhkan misil dengan tingkat akurasi tinggi, di lokasi yang diperintahkan, sebelum kemudian terbang kembali ke pangkalan yang telah ditentukan.
Kelihatanya, X-47B ini adalah successor F-35 jet tercanggih Amerika Serikat sebelumnya. Dirancang khusus sebagai jet tempur pemburu masa depan, dengan satu pertimbangan bahwa: Di masa depan, pilot manusia sudah tidak akan dibutuhkan lagi.
Dalam suatu pertempuran, kehilangan jet tempur adalah kerugian teknologi dan eknomi yang sangat besar. Akan tetapi, kehilangan pilot adalah kerugian multi aspek: aspek kemanusiaan yang buruk, dilihat dari aspek politik juga buruk, dan dari aspek moneterpun juga sangat buruk—dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk merekrut, mendidik dan melatih pilot hingga laik terbang.
Sebagai anak negeri, setiap kali melihat kemajuan teknologi di dunia barat sana, saya selalu tergelitik untuk bertanya pada diri sendiri: “Kapan negeri saya akan memasuki era teknologi seperti ini?”
Dan, sebelum pikiran saya melantur—(membayangkan para politisi/pejabat yang masih saja berkutat di seputaran perebutan kursi kekuasaan, menghabiskan energi bangsa untuk mempertengkarkan masalah yang sesungguhnya bisa dicegah dengan sistem dan pengawasan yang disiplin)—buru-buru saya menghibur diri dengan berpikir “Ah, mungkin masih dibutuhkan masa yang lebih panjang lagi untuk mengubah peradaban negeri ini ke arah yang lebih maju” sambil tak lupa berharap “Mudah-mudahan anak-anak saya kelak menjadi salah satu dari JAWABAN, bukan MASALAH”.
Gusti
(Sumber: Northrop Grumman)
kompasiana.com
X-47B terbang tanpa pilot (Source: Northrop Grumman )
Tadi malam saya menemukan press release dari NG yang mengabarkan tentang uji coba terbang X-47B yang dikembangkan sejak Agustus 2007. Uji terbang perdana ini dilakukan di Edwards Air Force Base (AFB)—pangkalan angkatan udara Edward, California, Amerika Serikat.
X-47B melesat ke udara pukul 14:09 waktu setempat. Berhasil melakukan take-off tanpa hambatan, menuju titik koordinat yang telah ditentukan dan kembali mendarat di pangkalan dengan mulus, setelah melakukan berbagai maneuver selama 29 menit.
X-47B take-off tanpa hambatan dan melesat ke udara pukul 14:09 (04/02/2011)
Sumber: Northrop Grumman
“Uji coba terbang perdana ini diamksudkan untuk menguji kelayakan terbang, kemampuan dan kehandalan perangkat lunak (software) yang mampu mengoperasikan pesawat ini secara otomatis [tanpa pilot]—sekaligus melihat kemampuannya untuk take-off dan landing di atas dek kapal laut” kata Capt. Jaime Engdahl (UCAS-D program manager, angkatan laut AS), seperti dikutip oleh NG.
Engdahl juga mengatakan bahwa jet tempur ini mampu beroperasi bersama-sama dengan kapal laut atau kapal udara pengangkut. Disamping menghasilkan data uji, percobaan terbang perdana ini juga untuk melihat aspek aerodinamis dari desain jet tempur X-47B ini.
Flight Envelope (sumber: wikipedia)
Secara teknis, X-47B ini disebut “Unmanned Combat Air Vehicle (UCAV)”, tetapi sesungguhnya pesawat ini adalah evolusi dari jet tempur NightHawk F-117 dan Raptor F-22, dan F-35 (terbaru sebelum X-47B) yang membuat perang Iraq kelihatan lebih mirip seperti game komputer saat melihatnya di situs departemen pertahanan Amerika serikat. Perpaduan antara teknologi siluman (stealth) dan kecanggihan misil yang membuat bomber B-2 Sprit kelihatan begitu angker skaligus mengerikan di medan tempur.
Meminjam dari era riset “sayap terbang (flying wing)”, bisa dibilang X-47B adalah sebuah jet tempur yang memadukan desain indah dengan kecanggihan mesin dan teknologi elektronik, tidak tertangkap oleh radar, dan sulit dikunci oleh misil berteknologi infra merah.
Pesawat ini memiliki kemampuan take-off secara otomatis, terbang menuju lokasi target penyerangan dengan sendirinya, mengenali medan yang berada dibawahnya dengan teknologi peretasan melalui berbagai macam alat sensor, lalu—jika diperintahkan (dari jarak jauh)—menjatuhkan misil dengan tingkat akurasi tinggi, di lokasi yang diperintahkan, sebelum kemudian terbang kembali ke pangkalan yang telah ditentukan.
Kelihatanya, X-47B ini adalah successor F-35 jet tercanggih Amerika Serikat sebelumnya. Dirancang khusus sebagai jet tempur pemburu masa depan, dengan satu pertimbangan bahwa: Di masa depan, pilot manusia sudah tidak akan dibutuhkan lagi.
Dalam suatu pertempuran, kehilangan jet tempur adalah kerugian teknologi dan eknomi yang sangat besar. Akan tetapi, kehilangan pilot adalah kerugian multi aspek: aspek kemanusiaan yang buruk, dilihat dari aspek politik juga buruk, dan dari aspek moneterpun juga sangat buruk—dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk merekrut, mendidik dan melatih pilot hingga laik terbang.
Sebagai anak negeri, setiap kali melihat kemajuan teknologi di dunia barat sana, saya selalu tergelitik untuk bertanya pada diri sendiri: “Kapan negeri saya akan memasuki era teknologi seperti ini?”
Dan, sebelum pikiran saya melantur—(membayangkan para politisi/pejabat yang masih saja berkutat di seputaran perebutan kursi kekuasaan, menghabiskan energi bangsa untuk mempertengkarkan masalah yang sesungguhnya bisa dicegah dengan sistem dan pengawasan yang disiplin)—buru-buru saya menghibur diri dengan berpikir “Ah, mungkin masih dibutuhkan masa yang lebih panjang lagi untuk mengubah peradaban negeri ini ke arah yang lebih maju” sambil tak lupa berharap “Mudah-mudahan anak-anak saya kelak menjadi salah satu dari JAWABAN, bukan MASALAH”.
Gusti
(Sumber: Northrop Grumman)
kompasiana.com
Subscribe to:
Posts (Atom)