Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Tuesday, May 17, 2011

Negeri Ironi

http://darut-taqrib.org/wp-content/uploads/2010/05/merah-putih-sobek300.jpg


disebuah negeri ironi….dikenal sebagai negeri yang indah, tetapi…..

dinegeri ini……..

banyak yang mengaku dan berpenampilan pejabat, tapi ujung2nya lebih kejam dari lintah darat….

banyak yang mengaku hebat..tapi ujung2nya ternyata bejat…!!!

banyak yang mengaku mewakili rakyat, tapi ujung2nya bikin melarat……

banyak yang mengaku anggota dewan, tapi ujung2nya perilakunya memprihatinkan seperti hewan…….

katanya pembuat peraturan dan undang-undang, ujung2nya hanya gerombolan orang yang suka menghambur-hamburkan uang……

banyak yang bicara kemakmuran, ujung2nya hanya sekelompok preman….

banyak yang mengaku pembela keadilan, tapi ujung2nya hanya cari uang…..

banyak yang mengaku menjadi pembela perkara, tapi ujung2nya memainkan perkara…..

katanya negara demokrasi, tapi ujung2nya…hanya mementingkan diri sendiri….memperkaya diri sendiri…..

banyak yang mengaku pembela hak azasi, tapi ujung2nya hanya para pencari sensasi….

banyak yang meminta otonomi, tapi ujung2nya berlomba2 korupsi…

banyak yang berjanji memberantas korupsi, ujung2nya hanya konspirasi untuk mengamankan posisi…

katanya nasionalis, tapi merayakan kemerdekaan Zionis…..

jadi kemana harus percaya? kepada siapa harus berbicara?

Arif Saja


Sumber: kompasiana.com

Segi Positif Pemerintah Reformasi dan Orba, Tentukan Langkah 2014

13056111861594507448

mantan Presiden RI-alm.H.Soeharto- Ordebaru, Presiden NKRI-Susilo Bambang Yudhoyono/foto Soeharto kaskus.us, SBY infopublik.kominfo.go.id




Kita telah sepakat menggulingkan era Ordebaru tahun 1998 dari masa kejayaannya selama 30 tahun. Kita telah muak dengan KKN (Korupsi,Kolusi dan Nepotisme) yang dilakukan. Bahkan beredar rumor bahwa korupsi yang dilakukan bukan oleh pejabat pemerintah, tetapi oleh anak-anak penguasa. Mereka menguasai semua pintu keluar masuk (ekspor dan impor) SDA, dan insfrastruktur di negeri ini. Seluruh asset negeri ini lari keluar, sembunyi dibalik savetybox Bank asing di negara lain.

Menarik mengamati komen dari kompasioner @Anto-w pada sebuah artikel  saya, saya copas; “Indonesia sebenarnya berubah “sangat drastis” dalam kurun 13 tahun ini. Ini membuat kita mengalami suatu “culture shock.” Di sisi lain kita harus membereskan sisa-sisa “pesta” yang ditinggalkan Orba, masih beruntung kalau sisa makanan “pesta” tersebut masih ditinggal, sisanyapun sudah dilarikan keluar negeri.”

Menarik sekali menelaah komentar beliau, yang menurut saya benar adanya. Karena Indonesia pada masa era Reformasi ini, sebetulnya berusaha sekuat tenaga untuk meluruskan keterpurukan masa Ordebaru. Berusaha sekuat mungkin menarik asset kekayaan negeri ini yang terkunci aman di negara lain untuk bisa dikembalikan ke negara asalnya.

Hanya saja, dalam realisasi perbaikan ini Pemerintah Reformasi lupa membekali sistim pemerintahannya dengan “Management Good Government.” Baik itu pada Kabinet Menteri, lembaga legislatif, dan lembaga yudicatif. Baik kinerja dan juga morality daripada para pejabat.
Pemerintah era Reformasi keliru menjabarkan “Good Government.”

Saya kira pak Presiden SBY, sadar betul akan hal ini. Sadar akan kemampuan kinerja Kabinet para Menteri, lembaga yudicatif, yang berada di bawah tanggung jawabnya. Yang notabene semuanya terdiri dari berbagai-partai politik. Kesadaran pak SBY ini bisa kita lihat pada barisan Istana yang beliau bentuk sebagai “duplikasi management.” Tujuannya hanya satu, untuk menyaring informasi yang masuk sehingga benar-benar dapat dipercaya ( itu menurut pak SBY). Bisa kita lihat dari:
-  Dewan Pertimbangan Presiden
-  UKP4 (Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan)
-  Satgas Mafia Hukum
-  KEN
-  Staf Khusus Presiden
-  Jubir
-  Tim ( Tim Lima, Tim Delapan dst)

Pejabat khusus ini sengaja dibentuk oleh Presiden SBY, untuk menyaring informasi dan kinerja Kabinet Menteri. Kalau dilihat, maka sistim pemerintahan yang dipakai oleh pak SBY ini semrawut, tumpang tindih. Oleh sebab “Dualisme management”  akhirnya melahirkan informasi management yang simpang siur, alias Corrupted information di kalangan para pejabat khusus Istana dengan kabinet Menteri. Secara psikologis sistim kinerja management ini memang tidak bisa disalahkan, tetapi kalau ditinjau dari aspek management pemerintahan yang benar, wah! sistim ini sangat komplikasi. Mekanisme check and recheck  dari berbagai informasi akan semakin tumpang tindih. Sebab itu, tak mengherankan kalau pak SBY dibuat pusing sendiri oleh petugas-petugas khusus ini.

Usaha pemerintah untuk membasmi kasus-kasus manipulasi nasional sampai hari ini belum tuntas. Lembaga independent KPK sering terbentur dengan tembok birokrasi.

Kasus-kasus seperti ; BLBI, LAPINDO, Antasari, Century, Mafia hukum, Mafia Pajak, Gayus, Money Laundering Citybank dan kasus suap Wisma Atlet SEAG 2011 yang kini marak dibahas. Ternyata mengalami peningkatan dari waktu kewaktu. Jadi usaha Pemerintah Reformasi untuk memperbaiki keterpurukan yang ditinggalkan era Orba semakin tak jelas. Usaha Pemerintah Reformasi untuk menumpas KKN jauh dari sempurna, atau tepatnya gagal. KKN semakin berkembang pesat, berakar jauh sampai kedalam jaringan sistim pemerintahan dan juga tatanan kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Salah siapakah ini?

Jawabannya “KITA.” Anda pasti bertanya balik, “loh mengapa kita?” Karena kita sebagai tatanan yang paling kecil dalam konteks kehidupan sosialpun melakukan KKN. Titik.

Lalu, bagaimanakah untuk pemerintahan baru tahun 2014, apakah KKN di negeri ini bisa diminimalisir?. Saya pesimis.

Oleh karena masa 13 tahun, setelah era Orba jatuh. Maka Reformasi “tidak berhasil” memerangi KKN yang merupakan kendala pembangunan nasional.

Kita tidak usah malu mengakuinya. Kenyataan ini bisa kita lihat pada dana alokasi yang bermiliar-miliar rupiah, yang berasal dari pembayaran hasil Wajib Pajak rakyat, yang dipakai untuk program kerja Kunker dan Studi banding para anggota komisi DPR-RI. Dari 143 kunjungan luar negeri dan 58 kali Studi banding. Hanya tiga (3)  file hasil Studi banding yang ada dalam laman website  www.dpr.co.id  Itupun hasil studi banding tahun-tahun yang silam.

Mari kita perhatikan hasil survey Indo Barometer kepada 1.200 responden di 33 provinsi di Indonesia pada tanggal 25 April sampai 4 Mei 2011. Ternyata masyarakat Indonesia mendambakan kondisi negara dan pemerintahan seperti di era Ordebaru. VIVAnews (15/5).
-  40,9% memilih lebih enak seperti kondisi Ordebaru
-  22,8% memilih era Reformasi
-  47,7% masyarakat di perkotaan memilih Orba lebih baik
-  35,7% masyarakat pedesaan memilih lebih baik era Reformasi
-  Responden dari seluruh pulau, menganggap kondisi Orba lebih baik
-  Sulawesi menganggap kondisi Reformasi lebih baik
-  Pulau Jawa memilih bahwa kondisi Orba lebih baik.

Yang sangat menarik, kalau kita perhatikan tanggapan Bapak  Faisal Basri , untuk survey Indo Barometer. Beliau seorang pengamat masalah ekonomi dan yang kebetulan kompasioner di rumah kompasiana ini.

Seharusnya masyarakat di pedesaan itu justru harus memilih Orba daripada Reformasi. Karena Pemerintahan Reformasi selama ini hanya memperhatikan perkembangan dan pembangunan di kota-kota besar saja daripada di daerah. Pemerintah Reformasi sangat lamban memperbaiki  tingkat kemiskinan di desa. Sektor pertanian yang merupakan tulang punggung dan faktor penting dalam perkembangan ekonomi masyarakat desa, tidak diperhatikan oleh Pemerintah Reformasi. Pemerintah tidak memperhatikan infrastruktur  di pedesaan, seperti bendungan, sistim irigasi yang rata-rata sudah rusak  dan sebagainya. Malah Pemerintah Reformasi itu sibuk membangun masyarakat kota, seperti membangun jalan tol, bandara dan sebagainya.

Para petani tidak bisa bersaing, karena kondisi mekanisme pasar sudah dikuasai oleh produk-produk import. Infrastruktur di pedesaan memang ditinggalkan oleh pemerintah reformasi.
Beliau menyatakan “Di desa banyak orang yang merasakan orde Reformasi tidak lebih baik daripada orang kota. Ini wajar karena 2/3 orang miskin ada di desa.” VIVAnews (15/5).

Jadi bagaimana, apakah Pemerintah Orba itu lebih baik dari Reformasi?

a.  Pada Orba, kita mengalami masa jaya Swa Sembada Pangan tahun 1987, KKN dikuasai oleh sekelompok keluarga penguasa, asset negara di bawa lari ke luarnegeri, kebebasan berpendapat - terikat.

b.  Pada Reformasi, kita mendapat penghargaan dari PBB untuk Global Champion for Disaster Risk Reduction - tahun 2011. Kemunduran sektor perekonomian, pembangunan dan infrastruktur masyarakat pedesaan. Otoda di daerah yang cenderung berjalan sendiri-sendiri. KKN yang semakin kuat berakar baik pada birokrasi dan kehidupan sosial masyarakat.  Kebebasan berpendapat - mengagumkan.

Yang mana akan kita pilih?

Della Anna


Sumber: www.kompasiana.com

Tuesday, May 10, 2011

Sedikit Tentang Negara Islam Indonesia(NII), Orang Awam Bingung??

Akhir-akhir ini Indonesia tengah dilanda demam berita mengenai gerakan yang mengatas namakan mereka sebagai NII ( Negara Islam Indonesia ). Sebuah wacana yang nyatanya mampu membuat resah berbagai pihak, mulai dari pihak kepolisian, para ulama agama, para pejabat, bahkan orangtua, lebih-lebih target salah satunya mahasiswa, penerus bangsa yang didambakan sebagai pembuat pencetus peradapan baru untuk bangsa kita agar menjadi lebih baik. Kembali pada NII, kelompak yang akan membuat Negara Islam Indonesia, Negara yang seperti apakah itu?? Orang awam beranggapan apakah seperti Negara Arab?? Tentunya jika memang seperti itu, berati harus mempergunakan aturan dan hukum islam, yang tidak melenceng dari ajaran islam, ajaran yang tertera dalam KItab Suci AL-Quran.

Lalu ketika melihat NII, apakah benar segala tindakan dari golongan mereka? adanya pemahaman tentang islam yang keliru atau telah disalah tafsirkan sehingga menimbulkan pemahaman lainya, tersiar menurut orang yang pernah ikut dalam golongan NII, mereka diminta untuk tidak mengakui keluarganya, bahkan bersikap kasar dan tidak hormat, serta tidak jarang mereka dipaksa memberikan harta benda mereka kepada pimpinannya dengan memanipulasi ajaran Islam. Melakukan penipuan kepada orangtua bahkan orang lain, bukankah itu sangat jelas diluar syariat agama islam, lalu kenapa mereka seakan kokoh dengan pandangan itu?. Pandangan mereka yang jelas melanggar syariat islam, nyatanya justru menjadi syarat sah dalam bergabung dengan kelompok mereka karena bagi mereka, merekalah representasi kelompok Islam. Mereka juga menganggap di luar mereka itu kafir, jadi darah dan harta di luar mereka itu halal.

Pengamat intelijen Wawan H Purwanto juga mencatat pola penjangkauan NII yang sangat rapi. Penjangkauan dilakukan NII seperti multilevel marketing (MLM), yaitu pemasaran lewat lisan. Setiap dua orang kader NII diharapkan bisa menjangkau 1 orang baru. Mereka juga menetapkan target penjangkauan 7 orang per minggu dan penghimpunan dana Rp 6-7 jt per bulan. Dengan berita semacam itu, apakah kita salah apabila pihak awam mengatakan sebenarnya mereka mencari uang atu pengikut atau justru keduanya?? Apakah kita yakin akan hidup dalam naungan golongan seperti itu? Yang tak jelas arah dan tujuan nya!

Dengan mereka beranggapan orang yang diluar NII adalah kafir, mereka menghalalkan mencuri, merampok dan berbuat kriminal lainnya selama dilakukan bukan sesamanya. Prinsip mereka itu, semua harta milik Allah yang harus dimiliki oleh kelompoknya saja. Dari sinilah mereka menghalalkan mencuri dan merampok, [berbagai sumber/www.hidayatullah.com]. Modus yang sering mereka lakukan adalah dengan metode pendekatan, hipnotis, bicara dari hati ke hati, dibawa ke tempat sesuatu, dibaiat, diajak untuk memahami amanu (iman), hijrah dan jihad. Terang saja orang yang tidak kuat imannya dapat dengan mudah terbujuk.

Sebagai orang awam, sempat berrfikir apakah memang benar itu akan dapat sejalan dengan ideologi bangsa kita ? Kembali pada zaman dulu, sejarah mengatakan betapa besar perjuangan yang harus ditempuh para pendahulu kita untuk membebaskan diri dari penjajahan, agar dapat menjadi bangsa seperti ini, bangsa yang besar dalan NKRI ( Negara Kesatuan Republik Indonesia ). Seiring polemik bermunculan, terfikirkan apakah ini salah satu cara penjajahan secara religious?? Walaupun negara kita masih saja berkutat dengan masalah korupsi, teror bom, deskriminasi rakyat kecil, pendidikan yang belum merata, kesehatan yang belum maksimal, banyaknya angka pengangguran, gelandangan, bahkan jumlah warga misikin yang masih banyak, tetapi dilihat dari sisi lain kita selayaknya dapat bangga pada bangsa ini, bangsa yang mampu bersatu dengan banyaknya agama, adat, suku, bahasa dan budaya, suatu kekuatan besar dimana kita dapat bersatu dari banyaknya perbedaan, bahkan menjadikan perbedaan sebagai kelengkapan dalam pengisi tatanan bangsa ini.

Walau terkadang masih saja sedikit bagian dari perbedaan yang ada selalu menimbulkan polemik baru, tapi setidaknya kita hidup dalam bangsa yang mempunyai hukun dan landasan yang jelas.

Untuk itu jangan sampai bangsa kita kembali terpecah belah, apalagi dengan modus melalui ajaran yang mengatas namakan agama islam, mereka menjadikan kita saling berpecah belah dan dengan gampangnya mereka mengambil kesempatan itu untuk saling mengadu domba.

Mohon maaf jika tulisan ini menyimpang dari realita atau dianggap menyinggung perasaan pihak-pihak tertentu dan ucapan terimakasih atas ilmu yang telah sebarluaskan sehingga ini dapat dijadikan sebagai amal ibadah, semoga orang-orang yang telah lalai masuk dalam golongan-golongan di luar syariat islam agar segera tersadar dan kembali pada ajaran Sang Pencipata Langit dan bumi, Allah SWT.

“Sesungguhnya agama yang diridhoi di sisi Allah hanyalah islam. Tiada berselisih orang-orang yang diberi al-kitab kecuali sudah datang pengetahuan kepada mereka. Karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabNya”
( QS. Ali Imran : 19 )

Ginanjar Yulianto


Sumber: kompasiana.com

Justifikasi Historis Islam Poltik Indonesia: “Siapa Melupakan Siapa ?”

Mensikapi berbagai kasus terorisme yang (mulai) marak kembali di tanah air, bertanyalah salah seorang presenter TV Swasta dalam acara bertajuk “Generasi Baru Terorisme” kepada Ja’far Umar Thalib, mantan Panglima Laskar Jihad tentang bagaimana meminimalisir, untuk tidak mengatakan menghilangkan sama sekali praktek-praktek radikalisme Islam di Indonesia. Ja’far Umar Thalib mengatakan, “pemerintah harus menegaskan kembali bahwa negara Indonesia adalah negara Islam”. Beliau menegaskan bahwa proses pembentukan Indonesia sebagai negara-bangsa telah jelas-jelas menetapkan Islam sebagai dasar negara (dengan klausula 7 kata dalam Piagam Jakarta). Tapi sayang, presenter TV swasta ini tidak tidak mencecar jawaban Ja’far Umar Thalib ini secara elaboratif. Mungkin si presenter ini berpandangan bahwa jawaban mantan Panglima Laskar Jihad tersebut sudah “selesai”, atau ia beranggapan bahwa ujung-ujung dari jawaban tersebut hanyalah akan membawa kita kepada hal-hal yang bersifat utopis dan a-historis. Tapi yang jelas, dalih klausula 7 kata dalam Piagam Jakarta (”dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”) selalu menjadi justifikasi historis-politis beberapa gerakan radikal untuk merasa berkewajiban menerapkan praktek negara Islam di Indonesia. “Masyarakat Indonesia, khususnya pemerintah, melupakan diri bahwa negara Indonesia sedari awal berdirinya sudah menjadi negara Islam”, kata Ja’far Umar Thalib. 

Mantan Panglima Laskar Jihad dan “suara-suara lainnya” beranggapan bahwa pemerintah, bahkan rakyat Indonesia, melupakan sejarah. Tapi benarkah demikian? Bila-lah sejarah ini bisa “diputar-balek” ke tahun 1945, tentu kita akan menikmati bagaimana para “Bapak Bangsa” ini berdebat dalam merumuskan dasar negara ini. Kita juga akan melihat events of history pencoretan klausula 7 kata dalam Piagam Jakarta dan bagaimana merka dengan hati lapang-terbuka berusaha untuk saling mendengarkan, saling empati dan berbicara “ke depan”. Tapi sayang, sejarah tidak bisa diulang. Ia einmalig, kata Leopold van Ranke, hanya terjadi satu kali. Kita hanya bisa “mendekati” dan merekonstruksi pengkisahannya. Hanya tertinggal kesaksian, catatan, fakta, interpretasi dan (bahkan) opini. Pencoretan klausula Islami yang dianggap sebagai kekalahan ummat Islam dalam menerapkan (sebagai legitimasi historis-yuridis) negara Islam, terjadi pada tanggal 18 Agustus 1945.

Satu hari setelah Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan republik ini. Dan, Bung Hatta (dianggap) adalah orang paling bertanggung jawab dalam penghapusan 7 kata ini. Dalam bukunya Sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Bung Hatta menulis bahwa inspirasi penghilangan 7 kata tersebut dari seorang opsir Angkatan Laut Jepang. Ia lupa siapa nama opsir tersebut. Itu terjadi pada sore hari, 17 Agustus 1945. Prinsipnya opsir AL Jepang ini menyampaikan informasi keberatan dari kelompok-kelompok Protestan dan Katholik di wilayah Indonesia Bagian Timur tentang pencantuman 7 kata “keramat” ini. Bila dipaksakan jua, ada keinginan dari kelompok-kelompok tersebut untuk “sayonara” pada Indonesia yang baru lahir itu.

Bung Hatta tentunya berfikir dan merasa khawatir. Dalam Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Republik Indonesia (PPKI) tanggal 18 Agustus 1945, putra Batuhampar Minangkabau ini kemudian mengutarakan hal ini. Sebelumnya, Bung Hatta juga mendiskusikan hal ini kepada KH. Wahid Hasyim, Mr. Kasman Singodimedjo, Ki Bagus Hadikusumo dan Mr. Teuku Hasan. Dan, singat cerita, akhirnya diperoleh kesepakatan dalam forum PPKI ini untuk menghilangkan 7 kata yang berpotensi “menyakiti” saudara non-muslim dan menggantikannya dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sejarah kemudian mencatat, “Ketuhanan Yang Maha Esa”-lah yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang didalamnya terdapat pula rumusan Pancasila. Menurut Bung Hatta, proses ini dianggapnya sebagai “perubahan maha penting yang menyatukan bangsa”. Konteks historis diatas-lah yang seringkali digugat. Bung Hatta-pun yang muslim dianggap sebagai orang yang tak berpihak pada Islam dan teramat mudah mendengar “keluhan” kaum non-muslim. Benarkah demikian ? Bung Hatta berpijak pada semangat keislaman inklusif dan komitmennya yang tinggi terhadap pluralisme positif. Suatu sikap muslim yang terbuka terhadap informasi dan perubahan.

Bung Hatta mengenyampingkan sifat absolutik, ia lebih mengutamakan substansi daripada simbol. Ketika Bung Hatta menyadari bahwa 7 kata tersebut berpotensi mengancam persatuan bangsa karena mengandung eksklusifisme keagamaan, maka tokoh republik yang teramat lambat nikah ini, melakukan refleksi dan penilaian ulang. Bagaimana bentuk refleksi dan penilaian ulang yang dilakukannya pada sore 17 Agustus 1945 tersebut, hanya ia seorang yang tahu. Tapi yang pasti, pada tanggal 18 Agustus 1945, Bung Hatta bisa menerima alasan keberatan pencantuman 7 kata tersebut. Tapi Bung Hatta tak ingin menganggap ini hanyalah sebagai refleksi seorang personal an-sich semata, karena itu ia merasa perlu untuk mendiskusikannya dengan empat tokoh Islam diatas (empat tokoh yang secara personal tidak dikeragui lagi moralitas dan dedikasinya serta merupakan representasi dari kelompok-kelompok besar Islam masa itu).

Jikalau ke-empat tokoh Islam diatas yang diajak berunding oleh Bung Hatta akhirnya menyetujui penghapusan 7 kata dan menggantikannya dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”, nampaknya hal tersebut sudah menjadi “kehendak Allah”. Ini bukan fatalism. Tokoh-tokoh ini bukanlah tokoh-tokoh yang “baru jadi”. Mereka telah menyejarah dan merasakan bagaimana kebutuhan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Ketika ada yang menggugat para tokoh ini sebagai orang-orang yang mudah dipengaruhi oleh kaum non-Islam, benarkah demikian ? Bisakah kita meragui ketokohan, kapabilitas, dan moralitas Bung Hatta, KH. Wahid Hasyim, Mr. Kasman Singodimedjo dan Teuku Hasan ?. Akhirnya, historia vitae magistra, kata Bennedicto Croce.

Sejarah mengajarkan kita kearifan. Sejarah tak bisa diulang. Ia terjadi hanya satu kali. Seterusnya, ia hanyalah interpretasi dan memori untuk dikenang. Tapi terlepas dari semua itu, adalah kewajiban kita semua untuk mengucapkan terima kasih kepada para “Bapak Bangsa” yang telah mampu mencari jalan terbaik bagi bangsa ini ke depan. Terlepas suka atau tidak suka, Pancasila memang layak disebut sebagai puncak prestasi intelektual dan kultural yang pada dasarnya mempertemukan ragam ummat beragama, sebagai entitas sosial-historis riil bangsa ini, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Benarkah kita melupakan penghilangan 7 kata tersebut ? Jawabannya adalah justru kita melupakan jawaban mengapa para “Bapak Bangsa” justru mencari format terbaik bagi keutuhan bangsa ini. Wallahu a’lam.

Referensi : Bung Hatta (1969).

Muhammad Ilham

Sumber: kompasiana.com


Mahalnya Biaya Membunuh Osama Bin Laden



Serbuan tentara Amerika Serikat di sebuah rumah, di luar Kota Islamabad, Pakistan, yang menewaskan pemimpin tertinggi Al Qaeda Osama bin Laden, bisa jadi merupakan puncak dari invasi militer Amerika Serikat di Afghanistan, sebelum militer Amerika Serikat menarik diri dari Afghanistan yang telah diduduki sejak tahun 2001. Tewasnya Osama merupakan sebuah prestasi bagi Presiden Amerika Serikat Obama dalam memerangi terorisme, bahkan tewasnya itu segera diumumkan langsung oleh Obama dalam sebuah pidato di televisi yang disiarkan secara langsung. Prestasi ini bisa menjadi modal atau pencitraan bagi Obama dalam US Election 2012.

Namun untuk membunuh Osama, bagi pemerintah Amerika Serikat bukan sesuatu yang mudah. Untuk membunuh Osama, ia harus berhadapan dengan pasukan Taliban dan rakyat Afghanistan. Mengapa Amerika Serikat kok bisa berhadapan dengan Taliban bukan dengan Osama? Sebab Pemerintahan Taliban digulingkan oleh Amerika Serikat karena dituduh melindungi pemimpin Osama. Masifnya invasi Amerika Serikat ke Afghanistan inilah yang membuat Taliban keluar dari Kabul, ibukota Afganistan, menuju basis-basis baru di pegunungan.

Sebagai pasukan yang terlatih dan militan, tentu tidak mudah menundukan Taliban.
Akibatnya biaya operasi militer Amerika Serikat dari tahun ke tahun semakin tinggi dan korban tentara AS yang tewas atau depresi jumlahnya mencapai ribuan. Bahkan untuk melakukan operasi militernya di Afghanistan, pada tahun 2009, Obama mengirimkan kembali 30.000 tentaranya ke Afghanistan, pengiriman tentara Amerika Serikat yang kesembilan kalinya, ini menunjukan gagalnya atau tidak berhasilnya operasi militer Amerika Serikat di Afghanistan yang dilakukan sejak tahun 2001.

Dilihat dari grafik pengeluaran untuk Perang Afghanistan dari tahun ke tahun semakin
melonjak. Disebut untuk mengirimkan tentara sebanyak 30.000 itu pemerintah AS mengeluarkan biaya sebesar US$ 30 miliar untuk masa satu tahun. Bila dirinci biaya perang dalam sebulan US$ 3,6 juta. Masing-masing tentara dalam satu tahun memakan biaya US$1 juta. Sepuluh tahun operasi militer di Afghanistan ini merupakan masa yang cukup lama, bahkan lebih lama dari Perang Dunia I (1914-1918), Perang Dunia II (1939-1945), Perang Irak-Iran (1980-1988), dan Perang Korea (1950-1953).

Invasi Amerika Serikat di Afghanistan bisa sangat lama, 2001-2011, sebab secara
teknik pertempuran tidak secara terbuka. Taliban lebih cenderung menggunakan sistem perang gerilya atau perang gunung sehingga mempersulit tentara Amerika Serikat untuk mendeteksi gerakannya. Selain itu secara sosiologis ada kedekatan antara Taliban dan rakyat sehingga secara diam-diam rakyat ikut membantu pertempuran.

Susahnya Amerika Serikat menumpas Taliban tidak hanya disebabkan teknik peperangan
dan sosiologi kedekatan antara rakyat dengan Taliban, namun juga disebabkan Hamid Karzai sebagai Presiden Afghanistan yang terbukti gagal dalam memimpin Afghanistan. Dosen Universitas Kabul, Saifudddin Saihun, beberapa waktu yang lalu mengecam, Hamid Karzai tidak mengembangkan strategi perdamaian bagi masyarakat Afghanistan setelah berakhirnya perang saudara dan invasi Amerika Serikat.

Menurutnya, selama hampir dua dekade, pemerintahan Hamid Karzai gagal melaksanakan tugas mengembangkan dan menerapkan konsep yang memadai dan strategi militer bagi pertahanan Afghanistan. Menyangkut jaminan perdamaian dan keamanan, pemerintah terlalu mengandalkan masyarakat internasional. Hamid Karzai adalah sosok koruptor. Kebiasaan korupsi inilah yang menyuburkan dukungan kepada Taliban dari masyarakat.

Untuk memecah hubungan Taliban dengan Osama, maka dalam Konferensi tentang
Afghanistan di Lancaster House, London, Inggris, pada tahun 2010, terdengar sebuah berita bahwa Amerika Serikat dan Inggris hendak 'menyuap' Taliban dengan dana sebesar 500 juta US$ atau sekitar Rp 4,7 triliun. Rencana penyuapan itu untuk membiayai program reintegrasi gerilyawan Taliban.

Program reintegrasi digunakan untuk membujuk sekitar 25 ribu tentara Taliban untuk
melepaskan senjatanya, turun dari gunung, dan kembali menjalani kehidupan masyarakat seperti biasanya. Bila para Taliban setuju dengan program reintegrasi, mereka akan ditawari pekerjaan, pendidikan, pemberian uang tunai, dan perlindungan. Program reintegrasi dirasa oleh kalangan pemerintah Afghanistan dan Barat bisa efektif karena konflik yang berkepanjangan di negeri itu bukan karena ideologi namun karena faktor ekonomi dan kesejahteraan hidup.

Namun mahalnya biaya operasi militer dan non-militer sepertiny tidak menjadi masalah
bagi Amerika Serikat. Sebab tewasnya Osama merupakan obat dari sakit hati rakyat Amerika Serikat atas serangan terorisme, 9/11, di WTC yang menewaskan sekitar 3.000 orang. Tewasnya Osama disambut gembira rakyat Amerika Serikat, lewat twitter, mereka
merayakan tewasnya orang yang dicari-cari tentara Amerika Serikat itu. Gubernur California, Arnold Schwarzenegger, dalam pesannya mengatakan, dirinya sangat bangga kepada prajurit Amerika Serikat. Bintang laga itu mengharap kepada rakyat Amerika Serikat untuk selama semenit mengucapkan terima kasih kepada para tentara yang telah berjuang untuk Amerika Serikat.

Tidak hanya Schwarzenegger, warga New York berkerumun dan bersorak-sorai di
ground zero, tempat bekas menara kembar WTC. Mereka hadir di tempat itu sambil mengatakan, bahwa korban serangan 9/11 tidak mati sia-sia. Dengan tewasnya Osama, warga New York merasa telah menang dan keadilan telah ditegakkan.

Ardi Winangun 
adalah peminat studi pertahanan. No kontak: 08159052503. Penulis tinggal di Matraman, Jakarta Timur.

Sumber: detiknews.com

Thursday, May 5, 2011

Mudahnya cari “Uang Haram” di Indonesia

13045276391067813293



Bulan Mei 2011 ini Reformasi sudah mencapai usia yang ke 13, namun hingga kini berbagai kasus besar Korupsi alias berburu “Uang Haram” malah susul-menyusul.

Coba simak saja, mulai dari Kasus BLBI, Kasus Bank Bali, Kasus Ayin, Kasus Pemilihan Deputi Gubernur BI, Kasus Bank Century, Kasus Pengemplangan Pajak (atau Kasus Gayus), Kasus Melinda, Kasus NII, Kasus Kemenpora dan berbagai Kasus Korupsi lainnya yang terungkap. Saya percaya itu hanya sebagian saja, masih banyak kasus-kasus lain.

Modus operandinya dimulai dari yang sederhana namun hasilnya sangat lumayan, sampai yang cukup canggih dengan menggunakan berbagai sarana (bahkan dengan kekuatan politik yang besar).

Saya sempat menganggap remeh bahwa berburu “Uang Haram” oleh apa yang dinamakan “Gerakan NII” hanyalah terjadi beberapa kasus saja, dan hanya menyasar kelompok tertentu, misalnya mahasiswa yang tertarik dengan radikalisme. Ternyata saya keliru besar. Saudara dekat saya, yaitu 3 (tiga) orang Ibu Rumah Tangga, telah dibobol tabungannya oleh yang menamakan diri “Gerakan NII”. Salah satu Ibu tersebut bahkan telah menguras tabungannya, padahal itu adalah cadangan Uang Kuliah kedua anaknya.

Rupanya Gerakan NII tersebut menyasar kelompok masyarakat umum perorangan yang ditengarai mempunyai dana. Dana tersebut jumlahnya antara puluhan sampai ratusan juta Rupiah. Apakah itu Gerakan NII betulan atau yang dikatakan sebagai Gerakan NII Palsu (yang hanya mau cari uang dengan cara mudah), toh tetap saja mereka membawa nama agama. Intinya masyarakat telah menjadi korban politik, entah itu politik untuk kepentingan apa.


Untuk perburuan “Uang Haram” pada level atas tentu lebih seru lagi. 

Konon kata seorang sahabat, manipulasi dana nasabah yang terjadi di salah satu bank asing terkenal tersebut pada dasarnya adalah praktik “cuci uang”. Kalau memang benar uang nasabah yang diambil seperti yang selama ini diberitakan, pasti si pemilik uang sudah heboh dengan urusan hukum, nyatanya sampai sekarang tenang-tenang saja. Mana ada orang kehilangan uang ratusan milyar Rupiah tidak heboh. Kata teman tadi melanjutkan, transaksi yang terjadi lumayan seru, uang panas dari luar tersebut masuk secara bertahap dan berkala yang kemudian akan diterima di sini dan disulap statusnya menjadi “Legal” melalui mekanisme “Underlaying Transaction”. Tentu saja harus membayar fee (untuk berbagai pihak), yaitu nilainya bisa sampai 30% dari nilai nominal uang yang dimasukkan ke sini. Wah, saya membayangkan kalau uang yang dibawa masuk Rp.1Trilyun, maka fee yang dibayarkan adalah Rp.300Milyar, itu kalau 1x saja, padahal biasanya bertahap dan berkala alias berkali-kali. Wah, bukan main, lagi-lagi cara mendapatkan “Uang Haram” dengan jumlah besar yang relatif sangat mudah. 

Itu hanya sebagian saja dari berbagai cara mendapatkan “Uang Haram” di Republik ini yang pada umumnya dilakukan secara berjamaah. Untuk Kasus Century, Kasus Gayus, Kasus Ayin, Kasus Pemilihan Deputi Gubernur BI dan lain-lain sudah diberitakan cukup jelas di berbagai media, jadi tidak perlu saya uraikan lagi. Belum lagi kasus-kasus besar lain yang sudah dilupakan orang yang terjadi sebelum Era Reformasi, seperti: Kasus Bank Duta, Kasus BLBI, Kasus Golden Key dsb.

Jadi rupanya di Indonesia masih terus saja berlangsung trend untuk berburu “Uang Haram”, apapun obyeknya dan apapun resikonya. 

Pada umumnya ciri dari praktik tersebut adalah adanya “Kekuatan Politik” yang mencampuri urusan “Perbankan”. Praktis intensitas perburuan “Uang Haram” tersebut tidak ada pengurangan dibanding di Era Orba. Nampaknya semakin lama malah semakin sistematis dan semakin canggih. Ciri yang menonjol dari praktik tersebut adalah: Dengan “Kekuatan Politik” melakukan “justifikasi” sedemikian rupa sehingga manipulasi menjadi “Legal”.

Pertanyaannya adalah: “Apakah memang tujuan “berpolitik” adalah dipakai untuk keperluan itu?

Nampaknya “Reformasi” yang dicanangkan di tahun 1998 ada pengecualian, yaitu secara umum tidak berlaku untuk tindak Korupsi. Lebih tepat bila disebut “Reformasi Pilih-pilih”, yaitu termasuk “Pilih-pilih” untuk tidak menindak korupsi yang dilakukan oleh “Kelompoknya”. 

Banyak yang beranggapan bahwa Pimpinan yang bersih mutlak penting karena dijadikan contoh atau panutan oleh bawahannya. Ternyata pernah ada anomali untuk itu (mungkin saja itu hanya terjadi satu atau dua kali). Saya masih ingat beberapa tahun lalu para wartawan mewawancara Anwar Supriyadi yang saat itu menjabat Dirjen Bea & Cukai (maaf saya lupa tanggal dan tahunnya). Apa yang beliau inginkan waktu itu adalah agar beliau bisa secepatnya diganti. Kenapa demikian? Nampaknya beliau sudah kehabisan akal untuk membersihkan institusinya. Padahal sudah banyak pejabat di tingkat bawahnya yang diganti dalam rangka pembersihan.

Ada berbagai pendapat tentang mudahnya melakukan perburuan “Uang Haram” di Indonesia, diantaranya adalah karena:
  • Adanya kekuatan politik yang besar yang bermain
  • Penegakan hukum yang tidak konsisten
  • Berbagai aturan perundangan yang masih tumpang tindih dan banyak terdapat grey area
  • Hukum yang masih belum steril dan terlalu kental dipengaruhi politik
  • Budaya permisif yang masih sangat kental di masyarakat kita
  • Jabatan/kewenangan yang dijadikan privilege
  • Dan lain-lain.
Fakta yang demikian telah menyulitkan banyak orang dalam mendidik anak-anaknya. Pada umumnya anak-anak selalu dipesan untuk: Belajar yang tekun, Jujur, Professional, Kerja yang baik dan Jangan pernah melakukan kecurangan. Tapi, para orang tua tentu tidak berdaya untuk menjawab pertanyaan anak-anaknya mengapa berbagai Kasus Korupsi tetap terjadi. Bahkan anak seorang teman dengan sinis menyebut bahwa di Indonesia ini Korupsi sudah menjadi ”Profesi”.

Tidak bisa saya bayangkan kalau sinyalemen anak tersebut betul-betul terjadi. Kalau itu terjadi maka bisa-bisa hampir semua profesi di Indonesia namanya “Korupsi”, sedang profesi-profesi yang selama ini kita kenal selanjutnya menjadi “Sub-profesi”.

Anto W

Sumber: kompasina.com

Osama Hanya Seorang Kakek, Mengapa Amerika Begitu Ketakutan?

1304572502918224714
Osama bin Laden sang kakek yang membuat Amerika begitu ketakutan, tanya mengapa? Sumber: the telegraph.com.


Siapa bilang Osama bin laden sudah mati? Ah itu sih buatan Amerika saja, tergantung kapan dan dimana Amerika mau, terlepas dari saudara-saudara kita yang ada di Amerika Serikat dan banyaknya penduduk muslim di Amerika Serikat, bagaimanapun tetap saja “biang keladi’ persoalan kacau balaunya dunia ya Amerika. Apa lagi dijamanya Bush Junior, si “koboy mabok” atau ” si “muka tembok” yang sudah jelas-jelas semua rakyat di dunia tak setuju akan penyerangannya terhadap Irak 2003 lalu, tetap saja dengan alasan di buat-buat menghajar habis-habisan Irak dan korbannya lebih dari yang WTC!

Dan ternyata si”pembohong besar” alias Bus Junior tak dapat membuktikan tuduhannya dan rakyat Irak sudah dibuat menderita sedemikian rupa dan si Bush Junior masih bisa tertawa-tawa sampai saat ini! Amerika,  siapapun pemimpinya akan “bermuka dua”,   bila ikut apa kata Amerika, boleh dikata,  apapun dikasih dan sebaliknya apabila menentang Amerika siap-siap dihajar habis-habisan dan dibuat sehancur-hancurnya negara yang bandel menurut persi Amerika!

Politik mendua yang selalu dipakai oleh Amerika membuat, mungkin,  satu-satunya negara yang paling banyak musuhnya dan paling takut atau paranoid. Bila Amerika membunuh dan menghancurkan suatu negara itu demokrasi! Namun bila ada dari negara lain yang melawan disebut teroris! Bahkan disebut poros setan! Siapa sih sebenarnya yang menjadi teroris dan poros setan itu? Anda bisa lihat sendiri sepek terjangnya. Berkali-kali Amerika Serikat ingin menjadi Tuhan dan Tuhan akan menghancurkan negara tersebut kalau pemerintahnya tak mau juga bertobat, hanya soal waktu.

Karena siapapun atau negara manapun yang sombong, Tuhan akan menghancurkan dengan caraNya sendiri! Terlepas di negara tersebut banyak orang yang masih baik-baik. karena disebabkan kesombongan sebuah pemerintahan disuatu negara, pihak yang baikpun akan terkena”getahnya”  Ibarat nila setitik merusak susu sebelanga.

Orang-orang sedunia menyambut gegap gempita ketika Obama dilantik menjadi Presiden dan ternyata ketika jalan pemeritahannya menjelang lewat dua tahun tindakannya sama saja dengan presiden Amerika Serikat lainnya, hanya Obama lebih sopan, lebih halus, namun intinya sama, menghancurkan siapapun yang melawan Amerika dan negara manapun yang tak mau tunduk kepada Amerika. Dan sekarang Amerika sedang membujuk Turky untuk memboikot perdagangan dan finansailnya kepada Iran.

Turky yang bertetangga baik dengan Iran dan dalam Islam diperintah berbuat baik dengan tetangga, oleh Amerika malah disuruh bermusuhan, alasannya karena Iran tetap mengembangkan nuklirnya.  Padahal berkali-kali Iran membantah, bahwa nuklirnya dipakai untuk perdamaian, untuk listrik dll. Namun seandainyapun untuk menjaga agar negaranya tidak diserang oleh negara lain, mengapa tidak boleh? Amerika Serikat, Rusia, Cina, India, Pakistan, Israel dan beberapa negara lainnya punya nuklir, mengapa Iran tak boleh?

“Kalau nuklir itu buruk, mengapa anda-anda memilikinya? Kalau nuklir itu baik, mengapa kami tak boleh memiliki?”  Begitu berkali-kali disampaikan oleh presiden Iran,  yang dalam kaca mata Amerika selalu buruk, sepertinya Amerika merasa diri negara paling baik sedunia! Padahal berapa banyak negara dihancurkan oleh Amerika Serikat dengan alasan demokrasi, kalau demokrasi menghancurkan negara lain, apa bedanya dengan anarki? Apa bedanya dengan para diktator, seperti  Hiller?

Kembali ke Osama bin Laden, sudah banyak analisa tentang Osama, intinya, sebagaimana yang dilakukan Amerika Serikat pada negara-negara atau individu, selama negara itu dibutuhkan oleh Amerika, maka negara tersebut dirangkul atau dibantu! Namun sebaliknya bila negara atau individunya sudah tak diperlukan, maka bisa jadi ditinggal begitu saja, bahkan untuk menghilangkan jejak sang individu dibuat mati atau dimatikan! Begitu juga yang berlaku pada Osama bin Laden.

Saat Afganistan berperang melawan pendudukan Uni Soviet selama tak kurang dari sepuluh tahun, Afganistan dan Osama bin Laden yang ikut berjihad bersama rakyat Afganistan mengusir Uni Soviet dibantu oleh Amerika. Namun setelah Uni Soviet “hengkang” dari Afganistan, Amerika menghancurkan Afganistan dengan alasan Taliban yang katanya tidak demokratis. Dan “anak asuhan” Amerika Serikat yaitu Osama bin Laden kemudian menjadi musuh nomor wahid bagi Amerika dan sekutunya setelah ada peritiwa WTC, yang sampai saat ini banyak sekali kejanggalan-kejanggalan yang tak terungkap, siapa sebenarnya “dalanag” dalam penghancur WTC itu?

Irak di hancurkan Amerikat Serikat pada masa pemerintahan Bush Junior,karena dianggap membantu terorisme dengan tunduhan tak terbukti, tapi Irak sudah hancur bagai neraka! Afganistanpun demikian adanya, lalu siapa teroris sebenarnya? Terlepas dari saudara-saudara kita yang ada di Amerika Serikat, Amerika Serikat, dalam hal ini pemerintahannya sudah berlumuran darah di dua negara tersebut dan sampai saat ini masih bercekokol di sana! Iran juga mau dihancurkan, hanya masih mikir ribuan kali, karena Iran sedang mengembangkan nuklirnya, jangan-jangan sudah jadi proyek tersebut, kalau jadi, bagus! Ada penyeimbang, jangan sampai terus menerus Amerika Serikat menjadi arogan karenannya.

Yang jelas Amerika takut secara fisik menyarang Rusia dan Cina, apapun pelanggran HAM yang menrut kaca mata mereka, Rusia dan Cina akan aman dari penghancuran Amerika Serikat, Amerika takut melawan negara yang punya nuklir! Coba saja Indonesia punya nuklir, terlepas dari SDMnya yang belum siap, pasti Indonesia akan dihancurkan juga oleh Amerika Serikat, bahkan bisa jadi alat pembenaran untuk menghancurkan Indonesia. Karena dengan alasan teroris, Indonesia “adem ayem” saja, Indonesia mau dipojokan sedemikian rupa agar bisa dihancurkan karena ada teroris di dalamnnya. Alhamdulillah itu idak terjadi, karena pemerintahan kita masih bisa “bermain cantik” dengan politikknya yang bebas aktif! Apa lagi Indonesia sekarang lagi hangat-hangatnya dengan  Rusia.

Dulu Indonesia “diadu domba” dengan Rusia karena alasan idiologi dan pemerinthan Orba “termakan” oleh adu domba tersebut, hingga hubungan Rusia Indonesia agak renggang sedikit, tapi tidak putus. Dan sekarang hubungan Rusia Indonesia semakin akrab, apa lagi setelah beberepa Mufti Rusia berkunjung ke Indonesia dan mendatangi beberapa perguruan tinggai Islam dan pesantren-pesantren dan mereka ingin banyak belajar Islam yang lebih moderat dari Indonesia dan Indonesia belajar teknologi Sukoi dari Rusia, Indonesia bahkan meluncurkan satelit komunikasinya yang terakhir atas bantuan Rusia,  yang harga peluncurannya ke orbit lebih murah dan tanpa persyararatan macem-macem ketimbang kalau diluncurkan oleh Amerika!

Lalu bagimana dengan Osama bin Laden yang katanya mati dan dikuburkan atau ditenggelamkan ke dasar laut? Ada apa tiba-tiba Amerika mengumumkan telah berhasil membunuh Osama bin Laden, bukan ditangkep hidup-hidup? Dan kemudian segera ditenggelamkan ke laut? Ada apa? Kenapa Amerika Serikat begitu takut pada Osama bin Laden, mengapa pada mayatnyapun Amerika Serikat ketakutan ?( Persis seperti di jaman Orba, rezim Orba takut bila Bung Karno di kuburkan dekat dengan kekuasaan, makanya dikuburkan di Blitar! Polanya juga sama dengan penjajah Belanda yang mengubur para Pahlawan Nasional yang ketangkep, bukan di kubur di tanah kelahirannya!) Apakah takut terbongkar rekayasa WTCnya? Takut akan pembalasan serangan dari jaringan Al Qaedah? Kalau Amerikat Serikat benar, mengapa takut?

Amerika telah menjadi paranoid, ketakutan! Karena begitu banyak negara yang dibuat hancur karena ulah Amerika. Coba lihat negara-negara di Eropa, seperti Swiss, Austria, Filnadia, Swedia dan lain-lain, aman-aman saja! Karena mereka tak mencampuri urusan negara lain, nah Amerika ingin mengatur semua negara semaunya Amerika, dengan alasan lagi-lagi demokrasi, tapi dengan demokrasi negara itu dihancurkan! Padahal ujung-ujungnya  sumber daya alam, minyak! Apapun alasan yang dibuat Amerika, dibaliknya adalah kerakusan dan aroganya sebagai suatu bangsa! Lagi-lagi terlepas dari banyaknya saudara-saudara kita yang berada di Amerika Serikat! Maaf, saudara-saudaraku.

Saudara-saudara kita yang ada di USA merasakan arti demokrasi yang sebenarnya di dalam negara itu, tapi ketika Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan luar negerinya, jauh sekali dari demokrasi yang ada di dalam negaranya sendiri! Di dalam negaranya Amerika bisa seperti seorang bapak yang menyangi anak-anaknya, tapi ketika ke luar negeri dan menghadapi negara yang tak mau tunduk kepadanya, Amerika akan seganas macan yang mencabik-cabik korbannya sampai ketulang sumsumnya!

Dan itu sudah dibuktikan ketika menghadapi Irak dan Afganistan, juga ketika menghadapi seorang kakek, Osama bin Laden, yang kemana-mana hanya pakai baju gamis dan sorban, serta tasbih di tanganya, serta senyuman yang tak pernah hilang, padahal si kakek ini sedang diburu oleh Amerika Serikat dengan kepalanya benilai jutaan dollar! Matikah Osama bin Laden? Tidak, selama Amerika Serikat terus menerus arogan dan merasa paling benar sebagai suatu bangsa atau negara, hingga negara lain dengan seenaknya dihancur leburkan, maka akan lahir ribuan Osama dan akan melawan Amerika dengan cara yang mereka bisa dan mampu.

Yang jelas Osama bin Laden akan terus ada, terutama di internet dan di Rusia Osama bin Laden bahkan dibuatkan oleh-oleh berupa kaos, gantungan kunci, matrioska(Boneka kayu yang beranak pinak, ciri khas kerajinan tangan tradisionil Rusia) dan patung lilin Osama bin Laden terus berdiri kokoh di Rusia,  disejajarkan dengan tokoh-tokoh dunia lainnya! Ironisnya Bush Senior dan Bush Junior tak masuk “hitungan” sebagai tokoh dunia yang perlu dicontoh atau dikagumi, loh patung lilinnya tak dibuat kok! Padahal ciri orang Rusia bila menghomati atau menganggap seorang tokoh berpengaruh di dunia akan dibuat patungnya, baik yang permanen maupun yang bentuk lilin. Nah ini dua-duanya tak ada,  baik yang  Bush Senior, apa lagi yang Bush Junior, si “muka tembok”!  Nah jadi siapa teroris yang sebenarnya? Mana lebih dahulu Amerika atau Osama bin Laden? Yang jelas, Osaman bin Laden tak akan penah muncul tanpa adanya Amerika Serikat, ibarat sebuah lagu” Kau yang memulai, kau pula yang mengakhiri”.

Syaripudin Zuhri


Sumber: kompasiana.com

Obituari Osama bin Laden, “Pahlawan bagi (Polisi) Dunia”

 http://www.ormasmkgr.org/wp-content/uploads/2011/05/obama-osama.jpg

Osama (atau Usamah) bin Laden - ObL - yang menurut informasi dari AS tewas terbunuh pada serangan di kediamannya, Abottahad Pakistan. Kematian ObL disikapi mendua oleh dunia, senang dan sedih. Senang dialami oleh (sebagian) warga AS, khususnya yang menjadi korban pengeboman WTC  dan pemerintah AS. Pemerintah AS bahkan membuat pernyataan ‘justice has been done‘ untuk menunjukkan bahwa dengan terbunuhnya ObL seolah-olah keadilan telah ditegakkan.

Keadilan substantive ataukah keadilan sebagai bentuk pembalasan dendam tidak lagi menjadi bagian dari refleksi dari penegakan hukum. ObL menjadi salah satu tokoh penting dunia dengan pencitraan yang bernegasi dengan Dalai Lama mulai dikenal setelah pengeboman WTC AS. Sejak saat itu ObL menjadi individu yang paling dicari untuk dimintakan pertanggung jawaban atas berbagai aksi teror yang dilakukan kelompok yang mengatasnamakan pembelaan kepada Tuhan.

Pencarian dilakukan, segala sumber daya yang dimiliki dikerahkan untuk mencari ObL. Pelosok dunia diobok-obok, dan ‘pusat’ pencarian dilokasir di negara Pakistan. Pencarian ObL dan pengerahan sumber daya ternyata menghasilkan pergerakan roda industri, khususnya industry mesin militer. ObL menjadikan dunia ‘bersatu’ untuk melakukan perburuan. Figure pemersatu disematkan karena berhasil membangun solidaritas dunia atas terorisme dengan mendukung AS dalam melakukan pencarian beliau.

ObL sebagai fenomenal dalam penegakan hukum. Disebut fenomemal karena dalam upaya melakukan pencarian dengan menangkap para pelaku teror lainnya. Penangkapan dilakukan untuk mencari tahu keberadaan ObL. Guantanamo menjadi saksi bagi interogasi atau penyidikan bagi individu yang diduga sebagai pelaku teror. Bahkan metode interogasi atau penyidikan menggunakan cara-cara primitive dan bertentangan dengan kemanusiaan (HAM). Setitik informasi menjadi penting dan wajib ditelusuri,  untuk membangun ‘puzzle’ keberadaan ObL.

Penegakan hukum melintasi wilayah negara dan system hukum dengan kemungkinan tanpa keinginan untuk benar-benar menegakkan hukum. Melainkan melakukan pembalasan dendam atas aksi teror yang dilakukan. Saksi dicari, ditangkap dan diinterogasi untuk mendukung kesalahan atau menegaskan bahwa ObL adalah tokoh yang berada dibalik aksi teror diseantero dunia. Penegasan tersebut didukung oleh media yang secara masif memberitakan pernyataan dari AS dan negara-negara pendukungnya. Pernyataan AS disebarluaskan, seolah-olah menafikan pernyataan ObL (dan Al Qaeda) dan menganggap pernyataan ObL sebagai omong kosong dan bohong.

ObL adalah pahlawan bagi polisi dunia. Karena berhasil mencitrakan AS sebagai pemimpin dunia dalam memberantas terorisme dengan kebijakan preemtif-nya pada masa kepemimpinan George W. Bush. Ketika terorisme menjadi alat propaganda yang mengijinkan AS untuk melakukan operasi militer dan intelejen di beberapa negara. Dan atas nama pemberantasan terorisme, negara-negara berdaulat ‘tunduk’ pada kemauan AS. Apalagi negara-negara yang pernah terkena serangan terorisme, akan dengan suka hati untuk membuka pintu kedaulatan nasionalnya kepada kepentingan AS.

Bahkan Indonesia-pun tidak luput dari pengaruh kepahlawanan ObL. Pembentukan Densus 88 POLRI yang hadir dengan bantuan/asistensi dari AS yang berkepentingan atas pemberantasan terorisme. Bangsa Indonesia sudah merasakan kehebatan Densus 88 dalam mengungkap pelaku terorisme. Semua itu karena ObL juga melahirkan (baca: mendidik) pelaku teror dengan ‘bahan baku’nya orang Indonesia. Dan sebagai anak didik ObL tidak memalukan ‘guru’nya dalam melakukan aksi teror-nya. Aksi terorisme selain menghasilkan Densus 88, juga menghasilkan dasar hukum dalam rangka pemberantasan terorisme.

ObL, tokoh fenomenal yang pernah lahir di dunia. Aksi kekerasan modern yang dikonstruksi sebagai teror(isme) ‘diciptakan’ dan dipropagandakan oleh figure ObL. Entahlah, apakah perlu berterima kasih atau bersyukur atas keberadaan figure ObL ataukah ikut mengutuki ketika dinyatakan tewas dalam serangan militer oleh AS? Harapannya adalah aksi teror dan terorisme dapat meniada, bukanlah malah terjadi penggadaan. Penggadaan termasuk pencarian model baru teror dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Dalam hal ini tetap masih diperlukan usaha bersama dalam membangun perdamaian dunia, termasuk pemaknaan atas perdamaian dunia di era teknologi informasi.

Perdamaian yang mengedepankan dialog dalam kesetaraan dan keadilan, bukan didasarkan pada keinginan untuk menaklukkan atau menguasai dalam berbagai bidang kehidupan. Perdamaian antar bangsa yang melahirkan keadilan. Keadilan yang dilandaskan pada kemajemukan atau keberagaman sebagai keniscayaan hidup.

Yakub Adi Krisanto
Sumber: kompasiana.com

Wednesday, May 4, 2011

Belajar Mati Cara Osama























Inilah orang yang nasibnya paling ditunggu; masih hidup atau sudah mati. Disebut sebagai komandan teroris nomor satu, yang kelakuannya bahkan cukup bikin pusing negeri sehebat Amerika. Bagi sebagian besar penduduk bumi, Osama bin Laden adalah momok. Tetapi bagi sebagian yang lain, betapa pun, pria berjanggut ini adalah pahlawan.

 Ia memenuhi syarat untuk menjadi top dalam hal apa saja; pintar, ahli siasat, sangat kaya, punya jaringan internasional yang telah terbangun lebih dari 25 tahun. Kombinasi luarbiasa ini membuat Osama tidak saja bertekad melawan sebuah negara sebagai pemberontak. Ia bahkan menantang dunia.

Selain menjadi tertuduh utama serangan WTC 11 September 2001 di New York, Osama beserta jaringannya juga dianggap sebagai kelompok yang paling bertanggung jawab terhadap peristiwa-peristiwa bom di banyak titik hampir di semua kota penting dunia, termasuk tentu saja Denpasar dan Jakarta di Indonesia.

Toh, sampai hari ini, Osama tetap sebuah misteri. Ia kerap muncul di televisi-televisi berita seperti CNN dan Al Jazirah, memberi semacam pidato dan sekadar menyapa publik internasional. Tentu lewat rekaman rahasia yang entah dibuat di mana dan oleh siapa. Pidato-pidato itu lebih sering tampil sesaat setelah publik dikejutkan serangan baru. Seolah sambutan selamat berduka dari sang kreator serangan.

Wajahnya yang khas tak cukup membuat Osama mudah ditemukan. Sampai hari ini, sambil terus diburu, Osama masih menjadi objek diskusi intelijen yang tak pernah tuntas. Pergerakannya jauh lebih licin dibandingkan Saddam Hussain yang ternyata begitu mudah ditangkap Amerika. Sumber kelicinan itu bukan pada Osama seorang, tetapi juga jaringan internasional Al Qaedah yang dipimpinnya. Sebuah organisasi yang –meskipun begitu samarnya— dianggap masih lebih berbahaya daripada Taliban, Palestina maupun garis keras Iraq. Bahkan Bush pun menjanjikan pundi-pundi Rp250 miliar untuk siapa saja yang bisa menangkap, menemukan ataupun membunuh Osama.
Karena semakin misterius, banyak wacana berkembang, termasuk kemungkinan bahwa Osama sesungguhnya telah tiada. Sebuah media di Pakistan malah mempublikasikan informasi tentang wafatnya Osama. Ia dikabarkan meninggal karena sakit dan sudah dikubur di sebuah pemakaman di Kandahar. Bila kabar itu benar, wuih… betapa kaya orang yang mengubur Pak Janggut, andai saja mereka mau melapor ke Amerika.

Ah, siapa pun Osama, dia tetap memberi warna dunia, lepas dari baik atau buruk yang diperbuatnya. Bukankah untuk menjadi tokoh tak harus selalu baik? Orang akan terus mengenang Firaun, Hitler, Mussolini, Stalin atau juga Soeharto, seperti halnya orang-orang mengenang Muhammad, Sidharta Gautama, Kong Hu Cu, juga Jesus.


Maka, lakukanlah sesuatu untuk dikenang. Buruk atau baik itu soal pilihan. Setidaknya, bila kelak mati, nama kita masih disebut-sebut pernah hidup di bumi ini. 


Hmm… saya sendiri belum ketemu ide mau melakukan (hal baik) apa. Atau, jangan-jangan mati tanpa bekas pun menarik juga?

Sumber: www.windede.com

Osama, Rhoma Irama dan Aswatama

Sudah ya. Kita sudah membaca kesimpang-siuran informasi tentang cara matinya Osama bin Laden, yang mati berkali-kali. Lalu apa hubungannya dengan Rhoma Irama dan Aswatama?

http://abycinta.files.wordpress.com/2010/07/20060119-osama.jpg

 
Jadi begini. Dahulu waktu aku masih kecil di desa kelahiranku, Desa Banggle, Nganjuk, Jawa Timur, penduduk desaku ngefans berat sama Rhoma Irama. Tapi mereka menyebutnya “Oma Irama.” Kenapa huruf “R”-nya kok dihilangi? Jawablah dengan teori jalannya informasi. Informasi itu merupakan kabar dari suatu fakta. Namanya juga kabar, kadang diterima tidak utuh. Bahkan orang yang menjadi pengabar atau informan bisa saja menafsirkan fakta tidak 100 persen sesuai kenyataan. Apalagi jika informan itu “sengaja” memanipulasi informasi. Jadi ya maklum saja jika penduduk di desaku itu mengira nama Rhoma Irama itu adalah Oma Irama. Biarpun radio tiap hari menyebut nama Rhoma Irama, kalau sudah kadung enak diucap dan didengar ya tetap saja jadi “Oma Irama”. Bandel juga mereka ini.


1304516804554229850


Lalu apa hubungannya dengan Osama Bin Laden? Nggak ada. Memang harus ada hubungan? Ini kan tulisan-tulisanku sendiri, ya terserah aku. 

Tapi setidaknya bisa dijadikan perbandingan, bahwa informasi tentang Osama Bin Laden yang kita terima itu bisa 100 persen benar, atau tidak 100 persen benar. Apalagi jika ada manipulasi informasi. Dan kalau sudah senang mendengar informasi tersebut, bisa saja kita menjadi penerima informasi yang bandel, seperti para tetanggaku yang tak mau lagi menyebut “Rhoma”, tapi tetap fanatik menyebut “Oma” meskipun mendengar siaran radio berulang-ulang bahwa namanya adalah “Rhoma.” 1)

Kaitannya dengan informasi matinya Osama itu, saya akan bercerita tentang sepenggal kisah matinya Begawan Durna alias Drona, yang menggunakan taktik informasi tentang kematian Aswatama. Tapi ini kisah versi wayang Jawa lo ya, bukan versi Mahabarata asli India. Tapi secara substansial sama. 

13045168712087581192 

Aswatama ini anak tunggal kesayangan Begawan Durna. Ibu kandung Aswatama adalah Dewi Wilutama atau Dewi Kripi yang konon berambut dan bertelapak kaki kuda. Durna mau mengawini Dewi Wilutama karena memenuhi janjinya setelah ditolong Dewi Wilutama untuk menyeberangi lautan. Saat menyeberangi lautan itu Dewi Wilutama berubah menjadi kuda terbang dan Durna menaiki Wilutama. Lalu Dewi Wilutama hamil. Apa gara-gara dinaiki Durna yang waktu mudanya bernama Bambang Kumbayana itu? Sudahlah, soal begitu tak usah dibahas!

Makanya Aswatama selalu pakai sepatu, sebab kakinya di bagian tungkai ke bawah adalah kaki kuda, seperti ibunya. Tapi dalam versi wayang lainnya ternyata kakinya normal-normal saja. Maklum kisah-kisah begini banyak versi. Ada juga versi yang menyatakan Dewi Wilutama itu bidadari. 

Adalah para Pandawa yang panik ketika Resi Durna menjadi senopati Hastinapura dalam perang Baratayudha di Kurusetra. Pasukan Amarta (negeri Pandawa) banyak yang gugur. Resi Durna tak bisa dikalahkan. Maka Krisna sebagai penasihat Pandawa menyarankan agar dibuat strategi untuk melemahkan spirit Resi Durna yang kebetulan juga guru Pandawa itu. Caranya adalah membuat informasi bahwa Aswatama telah mati. 

Semula para Pandawa tidak mau menggunakan cara licik. Berbohong, membuat informasi sesat untuk memenangkan perang adalah licik. Tapi Krisna tak kekurangan akal. Agar tak dikatakan bohong maka Pandawa diminta mengambil seekor gajah. Gajah itu diberi nama Aswatama, sama dengan nama anak Resi Durna. Lalu gajah itu dibunuh. Kemudian seluruh pasukan Amarta di Kurusetra disuruh teriak-teriak mengabarkan kematian gajah Aswatama. “Aswatama mati! Aswatama telah mati!” Demikian gemuruh teriakan pasukan Amarta yang kemudian terdengar di telinga Resi Durna yang sedang memimpin perang. 

1304516936992540871 

Mendengar berita kematian Aswatama itu maka Resi Durna bertanya kepada Yudistira, raja Amarta yang terkenal kejujurannya (tak pernah mau bohong, apalagi melakukan politik pencitraan). Yudistira, sulung Pandawa (secara formal) itu menjawab, “Iya, Aswatama telah mati. Entah itu gajah atau manusia.” Tentu saja ini jawaban politis. Dikatakan jujur juga tidak 100 persen. Robohlah kejujuran Yudistira yang dia pertahankan seumur hidupnya. Karena politik.

Maka Resi Durna mengira anaknya, Aswatama, yang telah mati. Akhirnya Resi Durna putus asa, sebab Aswatama adalah satu-satunya anak yang disayanginya, tumpuan hidupnya dikiranya telah mati. Maklum, sejak kecil Aswatama bagaikan piatu karena ditinggal ibunya ke kahyangan dan diasuh Durna sendiri sebagai single parent. (Paragraf ini kisah versi saya, jadi terserah saya!)

Singkat cerita, Resi Durna tidak lagi melakukan perlawanan dan ia mati di tangan Drestadyumena, anak Raja Drupada dari Pancala, yang membantu Pandawa. Sejak semula memang Drupada dendam kepada Durna yang telah mengambil separuh wilayah kerajaannya.

Di kemudian hari, Drestadyumena yang membunuh Resi Durna akhirnya juga dibunuh Aswatama yang dendam kepadanya. Begitulah kiranya dendam-mendendam dalam kisah yang tak ada habisnya hingga sekarang. 

Lalu apa kaitan kisah Aswatama ini dengan Osama bin Laden? Ya nggak ada juga. Terserah aku, wong ini tulisan-tulisanku sendiri! Tapi jika mau dicari perbadingannya, “pembunuhan bermotif politik” itu bisa karena tujuan menciptakan isu tertentu. 

Seperti halnya kisah Aswatama tersebut, bahwa kematian Osama Bin Laden, jika itu benar, akan menimbulkan dendam baru, dibalas dendam, dibalas lagi dengan dendam, dan seterusnya, Dunia ini memang telah ditumpahi sejarah dendam manusia yang tak ada habisnya.

1304516992126325229 

Manusia adalah monster yang paling ganas. Terorisme adalah istilah yang diciptakan oleh para teroris dalam kubu teroris yang lain. Teroris yang menguasai hukum formal dunia berhadapan dengan teroris yang dianggap ilegal. Mereka saling meneror hingga akhir zaman.
Selamat menikmati teror! Dan, memang lebih enak menikmati telor.

1) Kecuali saya meski orang desa, sejak masih bayi saya sudah ngefan dengan Kate Winslet. Mustahil saya ngefan Bang Haji Rhoma.

1. Foto Bang Haji Rhoma saya peroleh dari internet tapi saya lupa sumbernya.
2. Gambar wayang-wayang tersebut saya ambil dari Wikipedia. Cuma gambarnya. Kalau kisah wayangnya berdasarkan ingatan saya ketika sering nonton wayang di masa SD hingga SMP dulu. Tapi kalau ada yang lupa ya nyontek dikit di Wikipedia. Kecuali jika ada yang versi menurut saya sendiri seperti satu paragraf di atas. 

Subagyo
Pekerja Hukum dan Sosial

Sumber: kompasiana.com

Tuesday, May 3, 2011

Masih Adakah Prestasi Pasukan Khusus?

Sore hari selepas HUT TNI AU ke-65, sebuah stasiun televisi swasta, masih dalam
rangka HUT TNI AU, menyiarkan secara langsung dari Lanud Halim Perdanakusuma,
ketangguhan Detasemen Bravo 90, pasukan khusus di linkungan TNI AU, dalam menanggulangi teror pembajakan pesawat.

Dalam tayangan itu terlihat dari tampilan yang ada, Den Bravo begitu gagahnya dengan
senjata lengkap mampu membebaskan para sandera dari ancaman pembajakan. Latihan tersebut tentu menjadi modal bagi Den Bravo apabila peristiwa sebenarnya terjadi.
Den Bravo merupakan salah satu detasemen khusus antiteror, selain Densus 88 Polri,
Detasemen 81 Kopasus TNI AD, Detasemen Jala Mangkara Korps Marinir TNI AL, dan dan satuan anti-teror BIN. Sesuai dengan keahlian masing-masing mereka sering melakukan latihan pembebasan sandera atau operasi rahasia dengan model pelatihan diantaranya pembebasan pembajakan di berbagai tempat seperti kapal terbang, kereta api, kapal laut, dan fasilitas umum.

Ketangguhan detasemen khusus TNI, ketangguhannya sudah teruji ketika Kopassandha
(Kopassus) mampu membebaskan pembajakan pesawat Garuda Indonesia DC-9 yang dilakukan oleh lima teroris yang dipimpin Imran Bin Muhammad Zein, pada 28 Maret 1981, di Bangkok, Thailand. Operasi Grup-1 Para-Komando di bawah pimpinan Letnan Kolonel Infanteri Sintong Panjaitan itu mampu membebaskan pesawat itu setelah disandera selama empat lewat serbuan kilat.

Dari kesuksesan dalam pembebasan Operasi Woyla itu menempatkan Kopassus setara
dengan pasukan elit lainnya seperti Delta Force (Amerika Serikat), SAS (Inggris), dan Spetsnaz (Rusia). Tentu tugas detasemen-detasemen khusus Indonesia tidak selesai atau tidak melakukan apa-apa ketika tidak ada peristiwa pembajakan atau peristiwa sejenis. Saat ini dan ke depan pasti ada kejadian serupa yang membuat keahlian detasemen khusus harus terus teruji dan mampu menanggulangi. Kesuksesan Kopassus tidak berhenti di situ, dalam operasi pembebasan sandera Mapenduma, tahun 1996, pasukan khusus yang saat itu dipimpin Prabowo Subianto juga mampu membebaskan tim Ekspedisi Lorentz dari OPM.

Dalam penyanderaan kapal Sinar Kudus, sebenarnya menjadi peluang untuk membuktikan ketangguhan-ketangguhan detasemen khusus di Indonesia yang selama ini giat melakukan latihan. Namun sayangnya, disebut ketika operasi digelar, Kapal Sinar Kudus sudah tidak berada di tengah laut namun sudah ditarik ke sarang perompak, sehingga ada kekhawatiran timbul korban ketika operasi militer tetap digelar. Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengatakan perompak telah melabuhkan kapal MV Sinar Kudus ke pantai yang dikuasai gerombolan perompak. Sehingga posisi yang demikian menurut Agus Suhartono lebih sulit daripada di tengah laut.

Namun mantan KSAL Laksamana (Purn) Bernard Ken Sondakh mengatakan penangkapan perompak di lautan sangat sulit dilakukan. Untuk itu yang diperlukan mengamati gerak-gerik perompak tersebut sampai mengetahui di mana sarangnya. Jadi tidak kejar di laut, tapi sergap di darat.

Kalau sulit apakah kita tidak melakukan? Tentu harus tetap dilakukan. Bila banyak AL
negara lain bisa, kenapa kita tidak? Dari sekian AL yang paling sukses membebaskan sandera adalah AL Korea Selatan. Dalam pembebasan sandera di kapal milik perusahaan swasta Korea Selatan itu, AL Korea Selatan menyerbu kapal itu. Aksi pasukan komando itu menyelamatkan semua kru kapal, termasuk dua awak asal Indonesia, dan menewaskan delapan bajak laut.

Alasan Agus Suhartono yang mengatakan AL Malaysia dan AL Korea berhasil melakukan pembebasan sandera karena kapalnya masih di tengah laut, itu hanya sebuah alasan
semata atas keterlambatan operasi militer. Keterlambatan ini bisa jadi karena pemerintah bisa dikatakan lamban, sehingga operasi menjadi terlambat, dan lebih memilih menempuh opsi membayar tebusan dengan alasan untuk menghindari jatuhnya korban jiwa. Menebus dengan uang dirasa lebih aman daripada melakukan operasi militer yang penuh dengan resiko.

Dan cara itu berhasil, buktinya disebut perompak sudah membebaskan awak Kapal Sinar Kudus. Cara seperti itu syah-syah saja, bisa dikatakan itu merupakan bagian dari diplomasi, namun cara seperti itu semakin menyuburkan perompakan di wilayah perairan Teluk Aden, Laut India, dan Perairan Somalia. Langkah seperti ini pernah dilakukan oleh pemilik kapal berbendera Jerman, Arab Saudi, Singapura, dan Yunani. Mereka membayar tebusan karena negara kaya, lha kita bagaimana? Dengan cara seperti itu, maka target dan tujuan dari perompak Somalia tercapai, yakni memperoleh uang dari hasil kegiatannya itu.

Sebenarnya kita yakin Detasemen 81 Kopasus TNI AD, Detasemen Jala Mangkara Korps
Marinir TNI AL, dan Detasemen Bravo TNI AU, mampu melakukan hal itu. Para komando
mereka pun menyatakan siap jika menggelar operasi militer. Bukankah detasemen-detasemen itu sering melakukan pelatihan pembebasan pembajakan di berbagai tempat seperti kapal terbang, kereta api, kapal laut, dan fasilitas umum.

Bila kita tidak memberi kesempatan detasemen-detasemen khusus yang ada untuk
menggelar operasi militer, disebabkan karena kelambanan dalam bersikap, akan membuat
anggaran TNI menjadi membengkak. Mengapa membengkak? Karena detasemen-detasemen
khusus Indonesia itu akan belajar atau studi banding kepada AL Korea Selatan atau AL Malaysia untuk menimba ilmu pembebasan sandera di atas kapal. Belajar ke Korea Selatan kita masih bisa maklum, yang tidak maklum atau memalukan adalah belajar kepada AL Malaysia.

Di sinilah maka pemerintah harus memberi kesempatan kepada detasemen khusus untuk berperan, dengan segera bertindak ketika ada pembajakan. Kopassus tidak akan mampu
membuktikan keelitannya bila Presiden Soeharto dan Panglima ABRI, saat itu, tidak memberi kepercayaan kepadanya. Karena Soeharto dan Panglima ABRI memberi kepercayaan kepada Kopassus, maka pasukan elit itu terbukti tangguh di lapangan, tidak hanya tangguh saat pertunjukan atau tangguh ketika hanya melawan teroris kelas kampung.

Bila detasemen khusus berhasil dalam operasi pembebasan sandera kapal Sinar Kudus,
sebenarnya hal itu akan menjadi nilai tambah efek penggetar kekuatan militer Indonesia kepada negara-negara tetangga. Keberhasilan AL Malaysia dalam pembebasan sandera mungkin dalam hati kita membuat sedikit ciut bila menghadapi Tentara Diraja Malaysia. Keberhasilan AL Malaysia itu bisa jadi akan digunakan oleh Negeri Jiran untuk semakin melecehkan Indonesia.

*) Ardi Winangun pernah Bekerja di Civil-Militery Relation Studies (Vilters) dan Peminat Studi Pertahanan. Penulis tinggal di Matraman, Jakarta Timur. No kontak: 08159052503. E-mail: ardi_winangun@yahoo.com


Sumber: detiknews.com

Jihad Ala Syech Siti Jenar

Keamanan siaga satu. Itu diucapkan Joko Suyanto, Menko Polhukam, setelah bom buku, bom Cirebon, bom Serpong, bom di Gereja Christ Cathedral muncul susul-menyusul. Benarkah bertebarannya bom-bom itu dilakukan orang-orang yang habis dicuci otaknya? Tidak adakah kemungkinan dilakukan pengikut sekte semacam Syech Siti Jenar?

Cuci otak. Cap itu selalu diberikan pada siapa saja yang terlihat linglung, bunuh diri atau melakukan perbuatan di luar nalar normal. Akibat cap itu, maka setiap kasus identik, termasuk Syarif yang meledakkan diri di Polres Kota Cirebon selalu menggantung. Dia dianggap bukan subyek tapi obyek. 

Namun amati pesan yang tertuang dalam sampul buku milik Syarif. Pesan saya: 'Sungguh, kehidupan dunia itu hanya menipu'. Dalam pesan ini ada kesan yang dilakukan bukan hasil cuci otak. Dia punya kesadaran dan berkesadaran, bahwa yang dilakukannya adalah benar.  Dan 'kebenaran' itu serta-merta menyeret kita pada paham Syech Siti Jenar.

Memang, kata-kata itu mengingatkan kita pada doktrin Syech Siti Jenar yang meyakini hidup ini adalah kematian, dan matilah jika ingin hidup mulia dan langgeng. Dalam salahsatu pupuh Serat Siti Jenar, 'Kawula-Gusti ada dalam diriku. Siang-malam tidak dapat dipisahkan. Kawula-Gusti menyatu saat mati. Kalau sudah hidup, Kawula-Gusti lenyap, tinggal kebahagiaan langgeng.

Dalam kematian banyak godaan. Godaan yang merangsang hawa nafsu. Itu semua akibat panca-indera. Jangan terbenam dalam kematian. Itu hanya impian. Syech Siti Jenar tidak tertarik dan tak sudi tersesat dalam kematian, berusaha kembali kepada kehidupan'. (Catatan penulis: baca hidup itu mati, dan sebaliknya).

Indikasi Jenarisme (paham Syech Siti Jenar) yang menstimulasi atau menginspirasi terorisme itu tak sulit diruntut. Babad Cerbon dengan gamblang mencatat sepak terjang sang wali yang juga disebut sebagai Syech Lemah Abang itu. Termasuk kematiannya yang semerbak mewangi dengan jasad menjadi sekuntum melati. Ini juga diperkuat dengan mitos sejarah keberadaan Wali Songo, sebuah organisasi dakwah yang diproklamasikan di Sumur Gumuling, Gunung Jati, yang kini dikenal sebagai pemakaman Syech Bayan dan Adipati Keling.

Kendati Jenarisme juga berkembang di Jawa Tengah (Muria, Klaten, Jenawi) dan Jawa Timur (Sedayu (Gresik), Tuban), tetapi pertumbuhan paham ini di Cirebon dan Majalengka lebih subur karena lambatnya daerah ini menyerap kemajuan. Itulah faktor Cirebon dan Majalengka reaktif. Terjadi shock culture. Mandiri dalam 'jihad'. Sendiri-sendiri dalam merealisasi keyakinan 'hidup mulia dan langgeng'.

Memang 'kesendirian' itu tidak aneh jika melirik kasus bunuh diri maupun teror yang berlatar ekonomi, sekte dan kepercayaan yang pernah terjadi di negeri ini. Malah di Jawa Tengah ada sebuah daerah yang menganggap bunuh diri sebagai solusi. Itu saking banyaknya 'kasus kendat' akibat persoalan 'sepele'. Kepepet kebutuhan hidup.

Dan untaian itu kian memanjang kalau sudah terbalut sektarian. Pemberontakan Ngaisah salah satunya. Teror Mbah Suro di antaranya. Perjuangan Diponegoro ala gerilya Jawa termasuk didalamnya. Selain yang paling terkenal, Syech Siti Jenar dengan sikap 'hidup dalam mati dan kematian dalam hidup'. 

Para pengikutnya selalu mencari jalan menuju mati. Melakukan keonaran di pasar. Pura-pura merampok. Menggoda perempuan agar dihakimi. Semua itu dipakai sebagai sarana agar hidup cepat diakhiri.

Doktrin Syech Siti Jenar atau Syech Lemah Abang itu lekat tertancap di benak para santri. Ilmu kasampurnan (kesempurnaan) yang dalam pewayangan disebut sastra jendra hayuningrat pangruwat diyu yang amat ditabukan itu disadari mengundang petaka jika diamalkan. Tapi pengikut Syech Siti Jenar yang meyakini hidup adalah kematian, dan kalau ingin hidup langgeng penuh kemuliaan perlu mencari hidup sejatinya hidup (mati), maka mereka pun melakukan itu. 

Murid-murid Syech Siti Jenar yang termotivasi itu dengan gagah menantang maut. Mereka rindu hidup bahagia setelah mati. Anak-anak muda itu mengalami inisiasi sama dengan sekte Ranting Daud yang rela bakar diri massal. Adakah bom bunuh diri itu sarana menuju binasa? Bukan dengan cara mati dianiaya? 

Tapi mengapa semua yang terlibat dan melibatkan diri dalam aksi mencelakai diri itu kaum muda? Benarkah itu sebagai refleksi menemukan derajat hidup yang dicita-citakan seperti abstraksi Clifford Geertz? Jika pendidikan tinggi tidak bisa diraih karena ketiadaan harta, pekerjaan membanggakan tak mampu diwujudkan karena sulitnya lapangan kerja, maka spiritualitas sebagai simbol dari kemuliaan adalah satu-satunya langkah. Adakah 'jihad ala Syech Siti Jenar' itu konotasi spiritualitas itu?

Jika 'jihad' yang kini marak mengarah pada 'keterlibatan sekte', maka rasanya bom akan kian banyak bertebaran di berbagai daerah di Indonesia. Sebab 'calon pengantin' itu militan. Mereka meyakini lebih mulia 'jihad' daripada hidup tidak punya kemuliaan, tanpa pendidikan dan pekerjaan yang membanggakan. 

Kalau pemerintah ingin 'mencuci otak' mereka, maka lakukan dengan memberi kemudahan pendidikan dan sediakan lapangan pekerjaan. Selain, tentu, jangan biarkan bubuk mesiu mudah didapat di pasaran.

*) Djoko Suud Sukahar adalah pemerhati sosial budaya, tinggal di Jakarta.
Sumber: detiknews.com

Menuju Manusia Ketujuh Milyar

http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/03/13015030071760377674_150x150.gif
Oleh Andi Nur Aminah

Ledakan penduduk menjelang 2030 akan menyebabkan kelangkaan pangan, air, dan energi yang luar biasa. Kondisi ini bisa memicu kerusuhan sosial dan konflik internasional.



Bumi kian padat. Pertengahan tahun ini, diprediksi jum lah penduduk bumi akan dihuni oleh tujuh miliar manusia. Sanggupkah bumi menjadi pijakan dengan kondisi air tanah kian kerontang, hutan yang semakin menggundul, es di kutub yang terus mencair, namun berbagai polutan terus menggila?

Menelusuri dokumen tentang kependudukan, tercatat pada tahun 1 Masehi, bumi dihuni oleh 200 juta manusia. Pertumbuhan terus terjadi dan menjadi 1 miliar pada 1800 Masehi. Pertambahan penduduk terus melonjak pada 1930 menjadi 2 miliar.

Dalam kurun waktu 30 tahun, jumlah penduduk bumi sudah mencapai 3 miliar jiwa (1960). Lalu 14 tahun kemudian, sudah berkembang menjadi 4 miliar (1974). Pertambahan 1 miliar penduduk, terjadi 13 tahun kemudian menjadi 5 miliar (1987). Penduduk ke-6 miliar terjadi 12 tahun kemudian (1999). Dan pada 2011 ini, jumlah manusia di bumi akan mencapai 7 miliar jiwa. Angka tersebut tentu akan terus bertambah. Diprediksi, pada 2024, jumlah penduduk dunia akan mencapai 8 miliar.

Indonesia menjadi salah satu penyumbang terbesar jumlah penduduk dunia. Urutan pertama dan kedua, masih diduduki Cina dan India, menyusul Amerika Serikat yang mencapai 304 juta jiwa. Hasil sensus penduduk 2010 mencatat penduduk Indonesia sudah mencapai 237 juta jiwa. Angka ini pasti sudah bertambah lagi pada tahun ini.

Population Reference Bureau (PRB) AS memprediksikan, dengan laju pertumbuhan seperti sekarang ini, bumi akan menjadi rumah bagi penduduk pa da 2050 yang berjumlah 9 miliar pada tahun tersebut.

Menurut PRB, negara-negara berkembang memiliki laju penduduk yang lebih cepat daripada negara-negara maju. Di negara-negara maju, populasi terbesar akan didominasi usia rata-rata pendu duk, sedang kan jumlah tenaga kerja akan berkurang berkurang karena populasi yang menua itu.

Angka harapan hidup yang membaik ikut memberi andil dalam pertumbuhan penduduk dunia termasuk Indonesia. Perbaikan gizi dan pelayanan medis di negara-negara berkembang mengakibatkan terjadinya ledakan penduduk.

Di Indonesia, populasi usia 4-9 tahun menduduki posisi terbanyak, begitu pula usia 60 tahun ke atas. Menurut Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Sonny Harry B Har madi, membengkaknya jumlah pendu duk pada usia ini akan memberikan tambahan beban kepada usia produktif yang harus menanggung anakanak dan orang tua.

Angka harapan hidup orang tua memang saat ini cukup besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Selain umur manusia yang relatif lebih lama, pertumbuhan penduduk pun dipastikan akan terus bertambah karena banyak sekali perempuan di seluruh dunia yang sekarang ini berada dalam usia subur. Jumlahnya di dunia mencapai 1,8 miliar.

Usia produktif melahirkan anak itu bisa dipastikan akan terus menyumbang angka pertambahan penduduk dunia, setidaknya dalam beberapa dasawarsa men datang. Satu orang perempuan memi liki dua anak saja sama dengan satu perempuan memiliki empat anak pada generasi sebelumnya.


Kekhawatiran


Bertambahnya penduduk dunia setiap tahun akan berdampak pada banyak hal. Sumber daya alam yang terus terkikis, ke butuhan air, serta pangan otomatis akan membengkak. Kondisi ini tentu saja mengundang keprihatinan. Saat ini saja, berita-berita rawan pangan di berbagai penjuru dunia sudah kerap terdengar. Beberapa tahun dari sekarang, angka orangorang yang mati kelaparan karena kekurangan pangan akan terus meningkat.

Kekhawatiran tentang ledakan penduduk sudah diutarakan sejumlah ilmuwan, di antaranya John Beddington dari Inggris menyebutkan, perubahan iklim dan ledakan penduduk menjelang 2030 akan menyebabkan terjadi kelangkaan pangan, air, dan energi yang luar biasa. Menurutnya, kondisi tersebut bisa memicu kerusuhan sosial dan konflik internasional akibat terjadinya migrasi penduduk negara-negara lain.

Kepala BKKBN, Sugiri Syarif, mengatakan upaya menyadarkan masyarakat pentingnya pengendalian pertumbuhan penduduk melalui program KB perlu digiatkan lagi. Menurutnya, dengan jumlah penduduk 237 juta jiwa saja, pemerintah sudah menghadapi banyak masalah di antaranya banyaknya subsidi yang harus disalurkan.

Menurut Sugiri, saat ini, Indonesia telah menghadapi banyak kendala dan masalah seperti sampah, banjir, kemacetan, kesulitan akses udara dan air ber sih, serta isu perubahan iklim hingga ben cana akibat perusakan alam. “Bila gejala ledakan penduduk tidak terkendali, akan terjadi kehancuran ekologi,” ujar dia.

Sedangkan terkait masalah SDM, penduduk yang padat akan berimbas pada kian menurunnya kualitas Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Saat ini, kata Sugiri, IPM Indonesia masih berada di urutan ke-108 dari 189 negara. Jumlah penduduk yang besar itu ditambah lagi dengan IPM yang rendah akan menjadi masalah yang kian kompleks. Terbatasnya penyediaan lapangan kerja yang tidak seimbang dengan pertumbuhan angkatan kerja bisa memicu masalah baru, salah satunya kriminalitas.

Kondisi kependudukan Indonesia, menurutnya, sudah dalam keadaan lampu kuning. Karena itu, BKKBN memiliki tugas berat untuk menekan laju pertumbuhan penduduk yang kini sudah mencapai 1,49 persen. Mantan kepala BKKBN periode 1980-an, Haryono Suyo no, bahkan mengatakan tugas BKKBN saat ini jauh lebih berat daripada ketika program KB mulai dicanangkan pada 1970 lalu.

Menurut Haryono, saat program KB di canangkan 30 tahun lalu, ancaman yang terjadi adalah ledakan kelahiran ba yi (baby boom). Ketika itu, populasi jumlah bayinya yang meningkat tajam. Sedangkan saat ini, jika melihat piramida kependudukan, terjadi penggelembungan di tengah, yakni di bagian usia produktif.

Menurutnya, ini akan menjadi pekerja an berat karena populasi yang banyak ada lah usia produktif. Usia-usia yang ber potensi melahirkan anak, ujar Haryono.

Beratnya tugas yang terbentang di hadapan BKKBN untuk mengatasi lampu kuning itu sudah diatasi dengan melakukan revolusi dan revitalisasi di segala lini. Kini, BKKBN telah melakukan pelatihan terhadap 35 ribu bidan dan 10 ribu lebih dokter agar mampu menjadi tenaga pelayanan di 23.500 klinik KB. Klinik ini tersebar hingga ke wilayah-wilayah terpencil, pulau-pulau terluar, dan wilayah perbatasan.

Sumber: www.republika.co.id

Monday, May 2, 2011

Hari Buruh Internasional

1 Mei di tiap tahunnya selalu diperingati sebagai Hari Buruh Internasional. Hari yang dikenal sebagai May Day ini berawal dari haymarket riot tahun 1886. Ketika itu banyak kaum pekerja yang menjadi korban pada saat melakukan unjuk rasa menentang Kapitalisme.

130414974046623824

Di berbagai belahan dunia hak pekerja memang sering menjadi hal yang krusial. Tidak berbeda dengan negara kita. Buruh menjadi sebuah kata yang terus berputar dan berakhir pada kata terpinggirkan. Bagaimana tidak.

Di kancah politik dan ekonomi kita buruh selalu diidentikkan dengan faktor instabilitas, anarkisme, dan kambing hitam kinerja perusahaan. Perubahan nasib buruh seakan tidak menentu. Apalagi dengan adanya krisis global yang sudah terasa di Indonesia.

Meskipun tercatat di pemilihan umum (pemilu) kemarin ada dua partai yang berplatformkan buruh dan banyak aktivis buruh yang merapat ke partai politik. Pada kenyataannya hasilnya belum cukup menggembirakan dan belum bisa menaikkan bendera isu utama buruh bernama kesejahteraan.

Pengkelasan dan perbedaan buruh memang masih diwarnai mitos paham Sosialisme dan Komunisme. Hal yang belum bisa dilepaskan dari pengalaman represif dan marjinalisasi buruh oleh rezim Orde Baru. Suatu anggapan yang harus dihilangkan detik ini juga. Bagaimana tidak.

Esensi buruh sendiri hanya diidentikkan dengan pekerja menengah ke bawah di industri. Padahal dalam kenyataannya orang yang bekerja kepada pemilik modal tetap dinamakan buruh.

Apakah itu dengan bahasa karyawan atau pegawai lainnya karena kemudian terjadi perbedaan perlakuan dan harga yang dinilai oleh upah kerja dan perlakuan itu lebih disebabkan oleh ketidakberpihakan sistem terhadap buruh.

Delegitimasi peran buruh banyak dirasakan dengan diberlakukannya UU No 13 Tahun 2003. Peran outsourching semakin meminggirkan peran buruh yang tidak mempunyai skill dan bargaining yang kuat meskipun memang kompetensilah yang akhirnya dibutuhkan dalam kondisi seperti ini. Dalam memperjuangkan hak dan kewajibannya buruh memang menolak pengkelasan.

Pengkerdilan perjuangan kaum buruh sudah semestinya tidak lagi terjadi. Buruh sekarang harus benar-benar dihayati sebagai perjuangan kita bersama. Siapa pun anda adalah buruh terkecuali pemilik modal.

13041500001701486415


Buruh kasar (blue collar labour) dan pekerja berdasi (white collar labour) sama saja nasibnya. Perjuangan buruh untuk melakukan setiap aksinya memang hendaknya disikapi secara arif dan bijaksana oleh pemerintah dan pengusaha. Bagaimana pun buruh mempunyai peranan yang signifikan dalam proses produksi dan humanisasi sebuah industri.

Teriakan dan benturan kepentingan yang ada dalam setiap perjuangan buruh hanya merupakan akumulasi ketidakberdayaan negara dalam melindungi masyarakatnya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945.

Unjuk rasa dan tekanan terhadap pemerintah memang sering disuarakan. Tapi, kebanyakan perjuangan itu harus kandas dengan alasan keamanan dan ketertiban, dan lebih ironisnya banyak dari kita hanya melihat demonstrasi buruh sebagai pengganggu ketenangan.

Ada banyak hal yang bisa menjadikan kembali buruh sebagai manusia di negaranya sendiri di antaranya:
1. Karena memperjuangkan tujuan yang sama alangkah baiknya semua serikat buruh bersatu. Bagaimana mau kuat apabila serikat buruh atau pekerja masih berjalan  individualis.
2. Rasionalisasi dan nasionalisasi perusahaan-perusahaan strategis Negara demi meningkatkan pelayanan dan kemampuan untuk mendukung pelayanan terhadap publik masyarakat kecil Indonesia termasuk buruh.
3. Berdayakan kampanye bangga terhadap produk dalam negeri sehingga industri dalam negeri dapat memenuhi setiap kebutuhan pembangunan yang ada di Indonesia.
4. Berantas korupsi di BUMN/BUMD, dan bersihkan pungli yang selalu membuat perusahaan atau industri Indonesia dan mensinergikannya dengan berbagai kebijakan ketenagakerjaan dan kebijakan moneter.
5. Mekanisasi mesin-mesin industri untuk meningkatkan produktivitas pekerja atau buruh, dehingga tidak mengurang peran mereka.


Tidak bisa dipungkiri lagi masalah buruh sebetulnya sangat kompleks dan bertalian dengan kondisi nyata yang terjadi di Indonesia. Bangga terhadap Indonesia sebagai sebuah bangsa, mampu menajamkan peran buruh dan pekerja, karena dengan adanya empati dari seluruh masyarakat Indonesia maka roda-roda industri akan kembali berputar, sehingga tidak ada pilihan semua dimensi kehidupan kita harus dibenahi.

Hubungan industrial antara buruh dan pengusaha harus ditata lebih seimbang dan manusiawi, dan hal ini tentu saja tidak mudah. Diharapkan dengan mendorong solidaritas kaum buruh/ pekerja dari berbagai lapisan sosial untuk memperjuangkan hak normatif dan menjamin masa depan yang lebih baik bisa bersinergi dengan perkembangan perekonomian dan perindustrian Indonesia.

Sekarang kita tunggu bagaimana sikap buruh, negara, dan pengusaha untuk kembali berpikir demi kepentingan bersama. Selamat Hari Buruh saudaraku.

Duniadeni


Sumber: kompasiana.com

Tanggal 2 Mei, Hari Eksperimen Pendidikan Nasional

1304303408130483444

KI Hajar Dewantara


Tanggal 2 Mei harusnya diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional dimana para guru sudah mengabdikan diri sesuai semangat Ki Hajar Dewantara yang bersemboyan : ing ngarsa sung tulada (didepan menjadi teladan) ; ing madya mangun karsa (di tengah membangun semangat) ; tut wuri handayani (dari belakang mendukung), tetapi sayang pemerintah turut campur terlampau jauh sehingga mengcopy-paste kebijaksanaan yang sangat bertentangan dengan semangat pendidikan yang dikobarkan Ki Hajar Dewantara. Hasilnya ? Eksperimen system pendidikan yang merugikan anak didik tetapi menghamburkan anggaran sangat besar. Beberapa kasus dibawah ini menunjukkan hal tersebut.

Masih ingat Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)?  Kurikulum yang diterapkan tahun 2004 sejatinya cukup menjanjikan hasilnya apabila direncanakan dengan cukup matang dan diterapkan dengan penuh perhitungan. Karena anak didik dituntut aktif mengembangkan keterampilan untuk menerapkan IPTek tanpa meninggalkan kerja sama dan solidaritas, walau sesungguhnya antar anak didik saling berkompetensi. Para guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Dalam kegiatan di kelas, para siswa bukan lagi objek, namun subjek. Siswa akan mendapat nilai untuk setiap kegiatan yang dilakukannya.
Pelaksanaannya? Jauh Panggang dari api !

Salah satu korbannya adalah anak kedua saya, Iyo. Girang karena diterima di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 (SMPN2) salah satu sekolah favorit di kota Bandung hanya berlangsung kurang lebih satu semester. Selebihnya adalah keluhan, mulai dari buku yang buanyaaaakkk sekali karena sekolah berlangsung dari pukul 07.00 - 14.30 sehingga tasnya menjadi berat. Selain itu setiap 1-2 jam mata pelajaran berganti ditandai dengan moving class. Heboh pastinya, karena anak didik dari 12 kelas  saling berlari, berebut tempat duduk. Dan jangan heran apabila anak didik bertubuh “mini” terjepit dan jatuh. Untunglah moving class hanya berlangsung di kelas 7 sedangkan kelas 8 dan kelas 9 masih mengikuti kurikulum lama sehingga tidak menambah heboh.

Tapi masalah utama bukan itu. Sistem pendidikan Kurikulum Berbasis kompetensi ini idealnya diterapkan mulai semenjak Sekolah Dasar (SD). Sehingga anak didik siap ketika menginjak SMP. Tidak demikian halnya dengan Iyo dan teman-temannya. Mereka bukan generasi yang dididik untuk membaca dan dilatih untuk bertanya bagian per bagian. Mereka adalah objek yang diwajibkan untuk menghafal agar mampu menjawab soal-soal ulangan. Ada satu soal PPKn yang membuat saya tertawa sedih :
“Apa manfaatnya belajar rajin hingga mendapat nilai bagus di rapor?”

Anak saya dengan lugu menjawab :
“Agar orang tua merasa senang.”

Jawaban yang tidak terlalu salah menurut saya, karena pertanyaan tersebut jawabannya bisa melebar, tetapi ibu guru rupanya hanya menghendaki jawaban :
“Agar saya menjadi anak yang pintar”

Jadi? Ya dicoretlah jawaban Iyo (ketika itu masih kelas III SD), tanpa ampun, tanpa mau memberi nilai minimal ½ untuk usahanya. Karena yang diinginkan para guru adalah jawaban yang sama persis dengan catatan.

Sistem KBK sebetulnya menjadi pintu penghapus system belajar yang membuat anak menjadi pengekor. Sayangnya anak didik dan guru sebagai pelaku utama pendidikan tidak dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.

Jadi, di minggu pertama pelajaran anak didik mendapat tugas membaca buku pelajaran yang direferensikan dan pada jam akhir pelajaran anak didik mendapat kesempatan bertanya. Bisa ditebak hampir tidak ada anak didik yang bertanya karena mereka sudah terbiasa mendapat penjelasan isi buku di papan tulis. Bukan dengan membaca sendiri.

Minggu berikutnya guru akan bertanya apakah ada yang mau ditanyakan? Kalau tidak, isilah buku Lembar Kerja Siswa (LKS) yang harus dibeli. Harganya murah sih hanya Rp 5.000/buku, tapi isi LKS dan buku pelajaran sering tidak nyambung sehingga sangat sering saya menemukan buku LKS yang kosong melompong belum diisi. Minggu berikutnya? Ulangan! Tidak lulus? Remedial! Toh ada limit nilai yang harus dilalui yaitu Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Nilai remedial pastinya sebesar KKM. Selesai!

Tahun 2006-2007 diberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang merupakan penyempurnaan Kurikulum 2004 (KBK) sesuai PerMenDikNas No 24 tahun 2006 dimana pemberlakuan KTSP sepenuhnya diserahkan kepada sekolah dalam arti tidak ada intervensi dari Dinas Pendidikan atau Departemen Pendidikan Nasional.

KTSP seolah mengembalikan anak didik pada kondisi awal dimana dia hanya mendapat nilai berdasarkan hasil akhir bukan proses. Berbeda dengan system KBK dimana anak didik mendapat nilai beragam untuk setiap mata pelajaran. Misalnya di mata pelajaran Bahasa Indonesia anak didik akan mendapat nilai untuk : Mendengarkan, Berbicara,Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra. Cara yang adil untuk menilai anak didik  karena  berdasarkan KTSP  anak didik hanya memperoleh  nilai untuk pengetahuan dan ketrampilan.

Selesaikah masalah? Belum! Ada Kurikulum Berbasis Lingkungan. Kurikulum kerjasama Departemen  Pendidikan Nasional dan Kementerian Lingkungan Hidup ini sesungguhnya sangat bagus. Karena anak didik mendapat pendidikan lingkungan hidup sejak dini. Sehingga  seharusnya dia bisa memisah sampah sejak dini, mengetahui bahwa dia dilarang “plung” buang sampah kemasan minuman/makanan dari dalam kendaraan, seolah-olah jalan raya adalah tempat sampah raksasa.!

Apa permasalahannya? Kurangnya persiapan. Khususnya guru Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Guru yang ada (Guru Biology, Sejarah atau Kimia) ditunjuk begitu saja menjadi guru PLH tanpa buku pegangan yang memadai dan membumi. Akhirnya anak didik hanya mendapat tugas membawa pot beserta tanamannya. Mempelajari biji yang disemai hingga menjadi bibit dan ditanam. Selesai.
Bagaimana komposting? Apa itu perubahan iklim ekstrim? Global Warming? Diet Plastik? Mereka tidak tahu. Bahkan anak didik sering bingung membedakan tempat sampah organik dan tempat sampah anorganik. Sehingga sebaiknya sekolahan  menamai tempat sampahnya dengan tempat sampah yang bisa membusuk dan tempat sampah yang tidak bisa membusuk. Mudah mengingat dan melaksanakannnya.

Mirisnya saya sempat mendapati ibu guru SD yang asyik bermain bola di pelajaran PLH, mungkin dia bingung memberi pelajaran PLH yang menarik dan tidak njlimet. Beruntung Tehnik Lingkungan ITB pernah menerbitkan buku PLH yang berisi stimulasi untuk anak didik sehingga guru tersebut sekarang mendapat  copy-annya.

Hasil survey kecil-kecilan saya juga menunjukkan bahwa anak didik umumnya tidak mengetahui bahayanya plastik. Mereka mengklaim bahwa botol beling/gelas lebih berbahaya daripada botol plastik. Mungkin perbandingannya apabila botol beling pecah bisa melukai, tidak demikian halnya dengan botol plastik. Adu argumen baru selesai sesudah saya tunjukkan gambar Sungai Citarum yang berisi botol plastik dan bukan botol gelas.

Indonesia mempunyai banyak konsep bagus. Juga mempunyai banyak tenaga ahli yang berdedikasi. Sayang semuanya tidak bersinergi sehingga mampu menghasilkan anak didik yang sungguh cerdas, tangguh dan berwawasan lingkungan.

Apa yang salah? Mungkin karena semua langkah berarti proyek dan proyek berarti uang mengalir. Tak peduli proyek tersebut berkesinambungan atau tidak dengan proyek lainnya. Karena itu sebagai penutup saya ingin mengutip tulisan Kompasianer Kapitan Joe yang bagus berjudul Ujian Nasional Untuk Apa ? Kualitas Anak Didik di Tanah Air Tetap Rendah sebagai berikut :

Dalam pengamatan saya istilah Ujian Nasional ini mengcopy 100% pola Ujian yang dilakukan di AS, di sini istilah yang saya ketahui adalah State test, artinya ujian persamaan yang dilakukan oleh Negara bagian, bukan oleh Federal (Negara kesatua) bedanya anak-anak disini melakukan states test ini dua kali dalam satu tahun, sehingga bila ujian pertama nilai mereka belum mencapai tingkat yang ditentukan, maka mereka dianjurkan untuk mengikuti test susulan pada bulan berikutnya, sehingga menjelang akhir tahun pendidikan anak-anak tersebut sudah menyelesaikan state test yang dilakukan oleh negara bagian.

State test (Ujian Negara bagian) bukan hal mutlak bagi mereka, sekolah tetap berperan untuk menentukan kelulusan bagi siswa-siswi, dan itu terbukti setelah mereka tammat high school mereka dapat bekerja diberbagai bidang karena keterampilan dan sarana pendidikan disekolah merupakan prioritas bagi anak-anak didik.

Sebaliknya di Indonesia pemerintah ngotot untuk membuat persamaan nilai mulai dari Aceh hingga Irian jaya, padahal sarana pendidikan dan kualitas guru yang mengajar jauh dari apa yang dikatakan standard nasional, jadi jangan heran anak-anak didik ini sangat sulit untuk mengerjakan soal-soal UN ini, dan bagaimana hasil dari siswa-siswa yang lulus UN sejak 8 tahun lalu?

Saya sungguh berharap, pejabat Indonesia khususnya jajaran Kementerian Pendidikan Nasional membaca tulisan tersebut.

Maria Hardayanto
Sumber: kompasiana.com