


Source:Images.google , footballshirtculture.com
footballer's personal life in the neighborhood, a house and a football pitch. action and intrigue for players to get the victory.



Source:Images.google , footballshirtculture.com
Irfan Bachdim (lahir di Amsterdam, 11 Agustus 1988; umur 22 tahun) merupakan pemain sepak bola Indonesia keturunan Belanda, ia adalah pemain hasil naturalisasi yang dilakukan oleh PSSI bersama dengan Christian Gonzalez agar dapat memperkuat timnas Indonesia. Saat ini ia memperkuat Persema Malang di Liga Super Indonesia. Ia direkrut Pelatih Persema Timo Scheunemann bersama Kim Jefri Kurniawan. PelatihPersema Malang itu tertarik ketika Irfan dan pemain muda berbakat Indonesia lainnya bermain di laga amal untuk tokoh sepakbola Lucky Acub Zaenaldi Stadion Gajayana, Malang. Irfan sempat hampir membela tim sepak bola U-23 Indonesia di Asian Games 2006 - Qatar. Sayang, dia harus absen dari turnamen tersebut karena menderita cedera. Pada Bulan Juli 2009 dia ditransfer tanpa biaya ke klub HFC Haarlem.
Dalam bermain ia bisa menempati berbagai posisi, ia dapat menempati posisi striker, gelandang maupun sayap. Irfan mengikuti jejak ayahnya, Noval Bachdim yang sebagai pemain Persema Malang di era 80-an. Keluarga besar dari ayahnya kini masih tinggal di Lawang, Kabupaten Malang. Irfan saat ini tergabung dalam timnas Indonesia asuhan Alfred Riedl untuk Piala AFF 2010. Debut pertama bersama timnas Indonesia ia awali ketika timnas menang 6-0 di laga persahabatan melawan Timor Leste, di Palembang pada 21 November 2010.
Penampilan pertamanya bersama Timnas dalam turnamen resmi terjadi pada 1 Desember 2010, saat Indonesia mengalahkan Malaysia 5-1 di Gelora Bung Karno pada ajang AFF 2010. Irfan sendiri mencetak 1 gol dalam pertandingan tersebut.
| Personal information | |||
|---|---|---|---|
| Full name | Javier Hernández Balcázar | ||
| Date of birth | 1 June 1988 (age 22) | ||
| Place of birth | Guadalajara, Mexico | ||
| Height | 1.75 m (5 ft 9 in) | ||
| Playing position | Forward | ||
| Club information | |||
| Current club | Manchester United | ||
| Number | 14 | ||
| Youth career | |||
| 1997–2006 | Guadalajara | ||
| Senior career | |||
| Years | Team | Apps | (Gls) |
| 2006–2010 | Guadalajara | 64 | (26) |
| 2010– | Manchester United | 9 | (3) |
| National team | |||
| 2007–2009 | Mexico U-20 | 5 | (1) |
| 2009– | Mexico | 20 | (11) |
worldcup.kompas.com
worldcup.kompas.com
worldcup.kompas.com
worldcup.kompas.com
KOREA bisa dibilang sebagai pahlawan Asia di Piala Dunia. Sebab, mereka meraih sukses di ajang sepak bola paling akbar ini. Namun, bukan Korea Selatan pahlawan pertama, meski mereka sukses masuk semifinal Piala Dunia 2002. Justru tetangga sekaligus seteru politiknya, Korea Utara (Korut) yang menjadi pahlawan pertama Asia.
Sebelumnya, Indonesia dengan nama Hindia Belanda sebenarnya menjadi tim Asia pertama yang tampil di Piala Dunia pada 1938. Namun, prestasi mereka kurang fenomenal. Langsung dihajar Hungaria 0-6 dan tersingkir.
Setelah itu, Korsel menjadi tim Asia kedua yang masuk putaran final Piala Dunia pada 1954. Prestasi mereka juga tak fenomenal, karena langsung tersingkir di penyisihan grup. Mereka dibantai Hungaria 0-9 dan dihajar Turki 0-7.
Sedangkan Korut yang tampil pada Piala Dunia 1966, membuat prestasi mengesankan dan memberi semangat tim-tim Asia lainnya untuk bisa berbicara di pentas itu.
Berada di Grup D, Korut sempat kalah 0-3 dari Uni Soviet. Namun, kemudian mereka menahan Cile 1-1 dan terakhir mengalahkan tim besar Italia 1-0. Kemenangan yang mengantar Korut ke perempat final. Prestasi besar pertama dari tim Asia. Apalagi, kemenangan atas Italia menjadi pembicaraan internasional dan amat legendaris. Sayang, di perempat final mereka bertemu Portugal yang saat itu tim tangguh dengan bintang Eusebio. Namun, Korut masih bisa mengimbangi dan hanya kalah 3-5.
Prestasi itu yang kini akan dicoba diulang di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan (Afsel). Apalagi, sudah 44 tahun mereka tak tampil lagi di ajang yang membesarkan namanya itu. Duta Korut untuk Piala Dunia 2010, An Hui Jong mengatakan, "Kami sangat bahagia bisa lolos ke putaran final Piala Dunia 2010. Kami optimistis bisa memperbaiki prestasi pada 1966."
"Sepak bola sangat penting bagi negeri kami. Berprestasi di Afsel akan memberi semangat besar buat bangsa kami, bahwa kami bisa meraih apa pun dan mampu bersaing dengan negara lain," tambahnya.
Sebagai negeri komunis, Korut memang sempat dikucilkan dunia. Mereka juga tertinggal dari saudaranya, Korsel, dalam pembangunan. Namun, mereka tak mau minder.
Kedisiplinan menjadi salah satu kekuatan mereka. Selain itu, menurut pelatih Korut, Kim Jong-Hun, mereka juga punya semangat besar. Itu yang menjadi senjata besar mereka. "Semangat kami menjadi kekuatan utama dan menginspirasi tim. Faktor ini yang menjadi andalan kami di babak kualifikasi," katanya.
Meski begitu, bukan berarti para pemain Korut minim teknik. Kim yakin, teknik dan strategi mereka tak kalah dari tim Asia lain seperti Korsel dan Jepang. "Kualitas pemain terbukti mampu mengatasi kesulitan dalam pertandingan. Kami juga punya dua striker maut dalam diri Hong Yong-Jo dan Jong Ta-Se. Kami bisa mengalahkan lawan dengan serangan cepat," terangnya.
Meski begitu, Korut lebih menerapkan permainan bertahan dalam skema 5-4-1. Kemudian, mereka mengandalkan serangan balik yang cepat. Ini dianggap strategi paling cocok, mengingat fisik Korut termasuk kecil-kecil.
"Kami tak mau mengikuti tren sepak bola menyerang, karena punya strategi sendiri berdasarkan kemampuan dan keadaan pemain. Kami memilih permainan defensif dan mengandalkan serangan balik. Kami akan membuktikan, kami datang ke Piala Dunia bukan sekadar numpang lewat. Kami yakin mampu bersaing dengan tim-tim terbaik dunia," ujarnya. (Hery Prasetyo)
Statistik
Top skorer: Hong Yong Jo, Jong Chol Min (4 gol)
Daftar Pemain:
Kiper: Kim Myong Gil (Amrokgang), Kim Myong Won (Amrokgang), Ri Myong Guk (Pyongyang City)
Belakang: Cha Jong Hyok (Amrokgang), Ri Jun Il (Sobaeksu), Ri Kwang Chon (April 25), Nam Song Chol (April 25), Pak Nam Chol (Amrokgang), Ri Kwang Hyok (Kyonggongop), Pak Chol Jin (Amrokgang)
Tengah: Ji Yun Nam (April 25), Mun In Guk (April 25), Pak Sung Hyok (Sobaeksu), Ri Chol Myong (Pyongyang City), Pak Nam Chol (April 25), An Yong Hak (Omiya Ardija), Kim Kyong Il (Rimyongsu), Kim Yong Jun (Pyongyang City)
Depan: Hong Yong Jo (FC Rostov), An Chol Hyok (Rimyongsu), Jong Tae Se (Kawasaki Frontale), Choe Kum Chol (April 25), Kim Kum Il (April 25)
worldcup.kompas.com
worldcup.kompas.com
SELANDIA Baru akhirnya kembali tampil di putaran final Piala Dunia 2010. Mereka terakhir merasakan pesta terakbar sepak bola itu di Piala Dunia 1982 di Spanyol.
Itu termasuk pengalaman menyenangkan, meski hanya sampai putaran final. Mereka selalu kalah dalam tiga pertandingannya. Kalah 2-5 dari Skotlandia, 03 dari Uni Soviet, dan 0-4 dari Brasil.
Setelah itu, Selandia Baru langsung tenggelam. Maklum, sepak bola termasuk kurang populer di negeri itu. Rakyat mereka lebih suka rugby. Sehingga, sulit mencari bakat dari mereka.
Meski begitu, sepak bola terus hidup dan berusaha maju. Dan, setelah 28 tahun, akhirnya mereka kembali merasakan Piala Dunia. Selandia Baru sukses mengalahkan lawan-lawan mereka di Zona Oceania, sehingga lolos ke babak play-off lawan Bahrain. Selandia Baru sukses mengalahkan tim Asia itu.
Sukses itu ternyata berdampak besar. Sepak bola menyatukan rakyat yang sebelumnya memiliki banyak ragam minat di olahraga, untuk fokus mendukung mereka di Piala Dunia 2010 nanti.
Berada di Grup F, Selandia Baru akan bertemu juara bertahan Italia, Paraguay, dan Slovakia. Selandia Baru mungkin tim kecil yang tak diperhitungkan. Namun, mereka ingin beraksi juga. Bahkan, mereka menargetkan bisa lolos ke babak selanjutnya. (Hery Prasetyo)
Statistik
Top skorer: Shane Smeltz (8 gol)
Skuad Selandia Baru
Kiper: Mark Paston (Wellington Phoenix), James Bannatyne (Team Wellington), Glen Moss (Melbourne Victory)
Belakang: Ben Sigmund (Wellington Phoenix), Winston Reid (FC Midtjylland), Ryan Nelsen (Blackburn Rovers), Tony Lochhead (Wellington Phoenix), Ivan Vicelich (Auckland City), Tommy Smith (Ipswich Town), Andrew Boyens (New York Red Bulls)
Tengah: Simon Elliott (free agent), Aaron Clapham (Canterbury United), Tim Brown (Wellington Phoenix), Andy Barron (Team Wellington), Jeremy Christie (FC Tampa Bay), David Mulligan (free agent), Michael McGlinchey (Motherwell FC), Leo Bertos (Wellington Phoenix) Jeremy Brockie (Newcastle Jets)
Depan: Chris Killen (Middlesbrough FC), Rory Fallon (Plymouth Argyle), Shane Smeltz (Gold Coast United), Chris Wood (West Bromwich Albion)
worldcup.kompas.com
worldcup.kompas.com
PARAGUAY bukan tim asing di Piala Dunia. Sejak Piala Dunia pertama digelar pada 1930 di Uruguay, mereka telah tampil sebanyak tujuh kali. Piala Dunia 2010 Afrika Selatan akan menjadi penampilan mereka yang keempat di putaran final secara beruntun.
Memang, torehan prestasi itu terbilang tidak cukup untuk menyebut Paraguay akan bicara banyak di Afrika Selatan. Namun, kemampuan mereka untuk finis di urutan ketiga klasemen kualifikasi Piala Dunia 2010 Afrika Selatan Zona Amerika Latin dengan 33 poin, atau hanya kalah satu angka dari Brasil di puncak, menunjukkan bahwa kekuatan mereka semakin pantas diperhitungkan tim-tim favorit lainnya.
Paraguay memang sedang segar-segarnya dengan hadirnya banyak bakat mudal. Saat ini Paraguay bisa dikatakan mengalami masa transisi, menyusul pensiunnya sejumlah pemain lama, seperti Carlos Gamarra, Francisco Arce, Celso Ayala, dan kiper Jose Luis Chilavert. Di Afrika Selatan, Paraguay akan mengandalkan sejumlah darah muda, misalnya Nelson Haedo Valdez, Julio dos Santos, Jose Montiel, dan Oscar Cardozo.
Kiranya, keberhasilan timnas U-19 Paraguay menjuarai turnamen sepak bola pemuda internasional Milk Cup pada 2002, 2003, dan 2006, pantas menjadi jaminan bahwa mereka akan bersuara lebih lantang di Afrika Selatan. Setidaknya, Valdez dkk bisa diharapkan membawa Paraguay melangkah melampaui 16 besar.
Di tangan pelatih Gerardo Martino, Paraguay menjelma menjadi tim yang mampu menjaga keseimbangan dalam menyerang dan bertahan. Selain itu, daya gedor Paraguay juga semakin berbahaya karena penyerang mereka juga mampu merusak fokus bek lawan dan membuka ruang bagi rekan lain untuk mencetak gol.
Modal dasar itu akan semakin berkembang dengan dukungan motivasi para pemain muda untuk unjuk gigi agar menarik perhatian minat klub-klub besar Eropa. Para pemain Paraguay selalu bermimpin bergabung dengan klub Eropa. Piala Dunia akan jadi ajang pamer aksi mereka, sekaligus membawa timnya berprestasi setinggi mungkin.
Asal tidak terlalu egois mencari perhatian, barisan muda Paraguay ini bisa mengalahkan sukses para pendahulunya. (Tjatur Wiharyo)
Statistik
Top skorer: Salvador Cabanas (6 gol)
Skuad Paraguay
Kiper: Justo Villar (Valladolid), Aldo Bobadilla (Independiente Medellin), Diego Barreto (Cerro Porteno)
Belakang: Julio Cesar Caceres (Atletico Mineiro), Denis Caniza (Leon), Dario Veron (Pumas), Paulo Da Silva (Sunderland), Claudio Morel (Boca Juniors), Carlos Bonet (Olimpia), Aureliano Torres (San Lorenzo), Antolin Alcaraz (Brugge)
Tengah: Cristian Riveros (Sunderland), Jonathan Santana (Wolfsburg), Enrique Vera (Liga de Quito), Victor Caceres (Libertad), Nestor Ortigoza (Argentinos Juniors), Edgar Barreto (Atalanta)
Depan: Roque Santa Cruz (Manchester City), Oscar Cardozo (Benfica), Nelson Haedo Valdez (Borussia Dortmund), Rodolfo Gamarra (Libertad), Lucas Barrios (Borussia Dormund), Edgar Benitez (Pachuca)
worldcup.kompas.com
worldcup.kompas.com
SEBAGAI juara bertahan, Italia sangat bernafsu mempertahankannya. Seperti kata sang pelatihnya, Marcello Lippi, "Kami punya kemampuan kembali juara."
Selain itu, gelar juara juga akan menjadi kehormatan Eropa. Sebab, Italia akan menyamai tim Amerika Latin, Brasil, yang sudah juara lima kali. Sedangkan Italia sudah empat kali. Ini kesempatan emas untuk menyamakan kedudukan, agar sepak bola Eropa tak kalah dari Amerika Latin.
Dibanding Brasil, Italia lebih dulu mengecap manisnya Piala Dunia. Secara berturut-turut, mereka menjadi juara di Piala Dunia 1934 dan 1938. Dunia sepak bola kemudian harus berpuasa karena meletusnya Perang Dunia II dan baru dilanjutkan pada 1950.
Di era baru, Italia gagal menunjukkan kejayaan sepak bola mereka. Akibatnya, mereka membiarkan Brasil menyabet tiga gelar juara dunia pada 1958 di Swedia, 1962 di Cile, dan 1970 di Meksiko. Setelah bersusah payah, Italia berhasil menyamai kedudukan ketika menjuarai Piala Dunia 1982 di Spanyol.
Selanjutnya, alih-alih mengungguli Brasil, Italia malah kembali dilewati, menyusul kesuksesan Brasil menjuarai Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat (AS). Dan, di final Brasil mengalahkan Italia lewat adu penalti. Pada Piala Dunia 2002 di Korea Selatan-Jepang, Brasil makin unggul setelah juara. Empat tahun berselang, Italia kembali membuntuti Brasil usai merengkuh Piala Dunia 2006 Jerman.
Menyambut Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, pelatih Marcelo Lippi mempertahankan skuad Piala Dunia 2006. Meski pasukannya sudah bertambah empat tahun, Lippi berkeyakinan, pengalaman, mental juara, dan soliditas bisa diandalkan untuk menutupi faktor usia.
Meski performa mereka di lapangan selama babak kualifikasi kurang meyakinkan dan tampil buruk di Piala Konfederasi Afrika Selatan 2009 silam, Italia masih berpeluang menciptakan kejutan. Bukan tidak mungkin, Afrika Selatan akan menyaksikan bagaimana Italia bisa menyamai koleksi gelar Brasil, untuk kedua kalinya setelah era Paolo Rossi 1982. (Tjatur Wiharyo)
Statistik
Top skorer: Alberto Gilardino (4 gol)
Main dengan menit terbanyak: Fabio Cannavaro dan Gianluca Zambrotta (810 menit)
Kartu terbanyak: Danielle De Rossi (tiga kuning), Giampaolo Pazzini (1 merah)
Skuad Italia
Kiper: Gianluigi Buffon (Juventus), Morgan De Sanctis (Napoli), Federico Marchetti (Cagliari)
Belakang: Salvatore Bocchetti (Genoa), Leonardo Bonucci (Bari), Fabio Cannavaro (Juventus), Giorgio Chiellini (Juventus), Domenico Criscito (Genoa), Christian Maggio (Napoli), Gianluca Zambrotta (AC Milan)
Tengah: Mauro Camoranesi (Juventus), Daniele De Rossi (AS Roma), Gennaro Gattuso (AC Milan), Claudio Marchisio (Juventus), Riccardo Montolivo (Fiorentina), Angelo Palombo (Sampdoria), Simone Pepe (Udinese), Andrea Pirlo (AC Milan)
Depan: Antonio Di Natale (Udinese), Alberto Gilardino (Fiorentina), Vincenzo Iaquinta (Juventus), Giampaolo Pazzini (Sampdoria), Fabio Quagliarella (Napoli)
worldcup.kompas.com
worldcup.kompas.com
SEPAK BOLA Denmark sudah lama terbentuk. Federasi sepak bola setempat atau DBU sudah ada sejak 120 tahun lalu. Namun, timnas mereka perlu waktu hampir seabad untuk masuk ke jajaran tim elite di Piala Dunia.
Tim "Dinamit", begitulah julukan bagi tim nasional Denmark. Sebutan ini seolah begitu menyeramkan bagi lawan karena negara Skandinavia tersebut bisa meledakkan tim mana pun di Piala Dunia. Kenyataan berbicara lain sebab "Danish Dynamite" baru tiga kali lolos ke putaran final.
Di Piala Dunia pertama mereka, tahun 1986, Denmark berhasil menembus fase grup, tapi kalah dari Spanyol di putaran kedua. Denmark membutuhkan waktu 12 tahun untuk kembali ke pertarungan elite dunia ini, tapi langsung merangsek dan berhasil lolos ke perempat final Perancis 1998. Empat tahun kemudian, mereka kembali lolos ke putaran final, tapi hanya mengulang hasil yang sama pada 1986.
Meski demikian, masa-masa gemilang Denmark justru terjadi di ajang Piala Eropa. Pada Euro 1992, tim ini berhasil menyabet gelar juara pertama dalam sejarah sepak bola negeri tersebut. Pelatih Richard Moller Nielsen waktu itu sempat menghadapi dilema karena berseteru dengan bintang Denmark, Michael Laudrup. Namun, Nielsen tak kalah akal karena ia masih memiliki gelandang kuat yang tak lain adalah adik Michael, Brian Laudrup. Di lini belakang, Nielsen mengandalkan kiper terbaiknya, Peter Schmeichel.
Dengan kekuatan seperti itu, Denmark mampu memberikan kejutan di turnamen tersebut. Juara bertahan Belanda disikat di babak semifinal lewat babak adu penalti. Juara dunia Jerman pun harus mengakui kekalahan 0-2 di partai final.
Kehebatan Nielsen dan Denmark ternyata berhenti di tahun tersebut. Pada tahun-tahun selanjutnya, Nielsen selalu gagal memberi hasil terbaik bagi timnya, bahkan meskipun Michael Laudrup bersedia bermain di bawah asuhannya. Di Piala Dunia 1994, Denmark gagal masuk menembus babak kualifikasi. Dalam Euro 1996, mereka pun tak mampu melewati fase grup.
Usai kegagalan di Euro 1996 itu, Nielsen digantikan oleh Bo Johansson. Pelatih asal Swedia ini kembali membuka harapan baru bagi Denmark setelah tim tersebut berhasil mencapai perempat final Piala Dunia 1998 di Perancis. Akan tetapi, kutukan di Piala Eropa kembali terjadi pada 2000 dan Johansson pun harus lengser dan digantikan oleh Morten Olsen hingga sekarang.
Tren naik-turun pun kembali menghiasi prestasi pelatih baru Denmark. Skuad "Olsen-Baden" kembali tampil di perempat final Piala Eropa 2004. Setelah itu, prestasi mereka jeblok lagi. Denmark tak lolos kualifikasi Piala Dunia 2006 di Jerman, bahkan Euro 2008.
Begitu Denmark kembali lolos ke putaran final PD 2010, Olsen seolah menemukan keyakinan besar atas timnya. Apalagi, Denmark berhasil menjadi pemimpin Grup 1 zona Eropa dengan menomorduakan Portugal. Dalam kualifikasi, mereka hanya sekali kalah dari Hungaria meski sepanjang kualifikasi jarang menampilkan skuad terbaik.
"Ini (memimpin grup kualifikasi) menjadi yang pertama bagi sepak bola Denmark dan pencapaian luar biasa," kata Olsen dalam situs FIFA.com. "Kami beruntung pada beberapa laga, setiap tim perlu itu. Namun, kami juga tak beruntung karena cedera. Kami memakai 37 atau 38 pemain secara keseluruhan."
Dengan hasil mengesankan sepanjang babak kualifikasi itu, wajar jika kemudian FIFA menempatkan tim ini sebagai favorit lapis kedua. Di Grup E, Denmark hanya kalah kelas dari Belanda dan masih unggul di atas Jepang dan Kamerun.
Jika saat meledak mereka membuat kejutan dan menjuarai Piala Eropa 1992, kali ini pun mereka punya potensi ledakan besar. Jika itu terjadi, kejutan besar pun bisa memesona banyak orang. (Laksono Hari Wiwoho)
Statistik
Top skorer: Soren Larsen (5 gol)
Daftar Pemain
Kiper: Jesper Christiansen (Copenhagen), Stephan Andersen (Brondby), Thomas Sorensen (Stoke City).
Belakang: Daniel Agger (Liverpool FC), Lars Jacobsen (Blackburn Rovers), Patrick Mtiliga (Malaga), Per Kroldrup, (Fiorentina), Simon Poulsen (AZ Alkmaar) Simon Kjaer (Palermo) William Jorgensen (Copenhagen).
Tengah: Christian Poulsen (Juventus), Christian Eriksen (Ajax) Daniel Jensen (Werder Bremen), Jakob Poulsen (Arhus), Mikkel Beckmann (Randers), Thomas Enevoldsen (Groningen), Thomas Kahlenberg (VfL Wolfsburg).
Depan: Dennis Rommedahl (Ajax), Jesper Gronkjaer (Copenhagen), Jon Dahl Tomasson (Feyenoord), Martin Jorgensen, (Arhus) Nicklas Bendtner (Arsenal), Soren Larsen (MSV Duisburg).
worldcup.kompas.com
worldcup.kompas.com
BELANDA merupakan salah satu negara dengan tradisi sepak bola kuat. Derasnya arus regenerasi yang menjamin kelangsungan tradisi total football, sejak diluncurkan Rinus Michel dengan dirigen Johan Cruyff pada awal 1970-an, membuat mereka selalu diperhitungkan sebagai salah satu favorit juara.
Sayangnya, modal itu tak didukung oleh nasib baik. Dalam delapan penampilannya sepanjang sejarah Piala Dunia, prestasi terbaik Belanda mentok di tingkat runner-up pada 1974 dan 1978. Padahal, mengingat Belanda merupakan produsen dan penyedia pemain untuk klub-klub besar Eropa, mereka layak untuk menjadi juara, seperti yang terjadi pada negara penghasil pemain top, misalnya Brasil atau Argentina.
Tak usah jauh-jauh ke Piala Dunia. Ketika Piala Eropa 2008 Austria-Swiss digelar, lihat saja bagimana impresifnya aksi Belanda. Salah satu yang sulit dilupakan, tentunya ketika mereka memukul Italia 3-0. Toh, meski mampu mempertahankan performa apik di setiap laga, mereka tak bisa melangkah lebih jauh dari babak perempat final. Satu-satunya sukses besar mereka terjadi saat juara Piala Eropa 1988.
Belanda bukannya tak menyadari jeleknya garis tangan mereka di turnamen-turnamen besar. Namun, sebagai negeri sepak bola yang tak kalah seniornya dari Italia, Brasil, dan Argentina, pantang bagi mereka untuk melempar handuk sebelum berangkat. Bermodal rekor kemenangan 100 persen di babak kualifikasi, inilah waktu yang tepat bagi pelatih Bert van Marwijk untuk membalik putaran kincir keberuntungan mereka di daratan Afrika.
Jika mereka juara Piala Eropa 1988 berkat ada bakat-bakat besar seperti Ruud Gullit, Marco van Basten, dan Frank Rijkaard, kini pun sebenarnya mereka punya banyak bakat. Memang tak ada nama-nama sebesar mereka. Namun, kualitas Belanda cukup merata di semua lini sehingga peluang untuk juara pun seharusnya besar. Nama-nama seperti Wesley Sneijder, Robin van Persie, Arjen Robben, Nigel de Jong, dan Dirk Kuyt cukup menjadi andalan. Tinggal menunggu arah angin keberuntungan. (Tjatur Wiharyo)
Statistik
Top skorer: Dirk Kuyt dan Klaas-Jan Huntelaar (3 gol)
Menit terbanyak: Joris Mathijsen (720 menit)
Kartu terbanyak: Nigel de Jong dan Robin van Persie (masing-masing dua kartu kuning)
Kiper: Sander Boschker (FC Twente), Maarten Stekelenburg (Ajax), Michel Vorm (FC Utrecht)
Belakang: Khalid Boulahrouz (Stuttgart), Edson Braafheid (Celtic), John Heitinga (Everton), Joris Mathijsen (Hamburg), Andre Ooijer (PSV Eindhoven), Giovanni van Bronckhorst (Feyenoord), Gregory van der Wiel (Ajax)
Tengah: Ibrahim Afellay (PSV Eindhoven), Nigel de Jong (Manchester City), Demy de Zeeuw (Ajax), Stijn Schaars (AZ Alkmaar), Wesley Sneijder (Inter Milan), Mark van Bommel (Bayern Munich), Rafael van der Vaart (Real Madrid)
Depan: Ryan Babel (Liverpool), Eljero Elia (Hamburg), Klaas Jan Huntelaar (AC Milan), Dirk Kuyt (Liverpool), Arjen Robben (Bayern Munich), Robin van Persie (Arsenal)
worldcup.kompas.com
worldcup.kompas.com
GHANA termasuk salah satu negara yang cukup dominan di Benua Afrika, di samping Kamerun dan Nigeria. Meskipun demikian, mereka baru bisa mengecap panggung Piala Dunia pada tahun 2006 lalu, yang diselenggarakan di Jerman.
Tapi perlu di ingat, tim junior mereka pernah juara Piala Dunia U-20 dua kali. Terakhir tahun 2009, mereka mengalahkan Brasil di final. Jika juniornya bisa, maka sang senior pun akan terpacu dan punya kepercayaan diri. Setidaknya, mereka bisa membuat kejutan besar.
Di debutnya tersebut, "The Black Stars" yang minim pengalaman di Piala Dunia ini tampil impresif dan mengejutkan karena mencatat kemenangan atas dua tim kuat, yaitu Republik Ceko dan Amerika Serikat, untuk maju ke putaran kedua. Sayang, perjalanan mereka terhenti karena dijegal oleh goyangan samba Brasil.
Dalam perjalanan sejarah sepak bolanya, Ghana sempat menguak harapan untuk lolos ke pentas paling bergengsi di dunia ini pada tahun 1962. Mereka sangat perkasa di babak kualifikasi, karena berhasil menang dengan agregat 6-3 atas rival terbesarnya, Nigeria. Sayang, asa itu harus pupus karena di partai penentuan, mereka ditaklukkan oleh Maroko sehingga gagal tampil di putaran final.
Namun, di panggung lain (selain Piala Dunia), Ghana mencatat prestasi yang membanggakan. "The Black Stars" sudah empat kali menjadi juara Piala Afrika, masing-masing pada tahun 1963, 1965, 1978 dan 1982. Tim juniornya pun pernah menorehkan tinta emas di ajang Piala Dunia U-20, karena dua kali menjadi juara, termasuk yang terakhir pada 2009 ini, setelah di final mengalahkan Brasil lewat drama adu penalti.
Selain itu, Ghana juga hampir selalu "menelorkan" pemain-pemain top yang pernah menjadi pemain terbaik Afrika, seperti Osei Koffi, Abdulrazak Karim, Ben Acheampong dan George Al Hassan. Tak ketinggalan pula pemain top era 1990-an, Abedi Pele, yang menjadi bintang klub raksasa Liga Perancis, Olympique Marseille, serta striker legendaris, Anthony Yeboah.
Kini, Ghana masih memiliki materi yang mumpuni. Diperkuat sejumlah nama beken yang merumput bersama klub-klub elite Eropa, seperti Stephen Appiah dan Michael Essien, serta gelandang berbakat Sulley Ali Muntari, striker Matthew Amoahand, bek Samuel Kuffour dan John Mensah, mereka kembali lolos ke putaran final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, setelah melewati perjalanan yang mulus.
Tergabung di Grup D Zona Afrika, Ghana yang gagal di semifinal ketika menjadi tuan rumah Piala Afrika 2008--kekuatan tim menjadi keropos akibat diganggu cedera dan adanya larangan bermain kepada beberapa pemainnya--, mencatat poin yang nyaris sempurna karena dari lima pertandingan yang dilakoni, mereka hanya kalah satu kali dan sekali seri, ketika melakoni duel yang tak menentukan lagi saat melawan Mali, yang berakhir 2-2.
Nah, ini menjadi indikasi Ghana bisa membuat kejutan lagi, bahkan mungkin lebih bagus dari yang sudah ditorehkan empat tahun silam di Jerman. Tetapi sebelum membuktikan kekuatannya di arena pertarungan antara negara-negara sedunia tersebut, tim besutan pelatih Milovan Rajevac (Serbia) ini harus lebih dulu memperlihatkan taringnya di Piala Afrika bulan Januari nanti, yang bisa dikatakan sebagai pentas ujicoba sebelum terjun ke Piala Dunia Afrika Selatan bulan Juni.
Jika dominan lagi di benua sendiri, apakah Ghana bisa melanjutkannya di Piala Dunia yang juga dilangsung di Afrika? Meski masih minim pengalaman (karena baru akan tampil untuk kedua kalinya), tapi Ghana tetap punya potensi membuat kejutan! Minimal, mereka bisa melewati penyisihan Grup D yang dihuni Jerman sebagai tim unggulan, Australia dan Serbia. (Aloysius Gonsaga Angi Ebo)
Statistik
Top skorer: Manuel Agogo (4 gol)
Daftar pemain
Kiper: Richard Kingson (Wigan), Daniel Agyei (Liberty Professionals), Stephen Ahorlu (Hearts of Lions)
Belakang: John Pantsil (Fulham), John Mensah (Lyon), Samuel Inkoom (Basle), Hans Adu Sarpei (Bayer Leverkusen), Rahim Ayew (Zamalek), Lee Addy (Bechem Chelsea), Isaac Vorsah (Hoffenheim), Jonathan Mensah (Granada);
Tengah: Kwadwo Asamoah (Udinese), Anthony Annan (Rosenborg), Sulley Muntari (Inter Milan), Kevin-Prince Boateng (Portsmouth), Quincy Owusu-Abeyie (Al Sadd), Stephen Appiah (Bologna), Andre Ayew (Marseille), Derek Boateng (Getafe)
Depan: Matthew Amoah (NAC Breda), Asamoah Gyan (Rennes), Prince Tagoe (Hoffenheim), Dominic Adiyiah (AC Milan)
worldcup.kompas.com